Rabu, 03 Agustus 2016
selamat ulang tahun, teruntuk lelaki pertama yg kukenal
Sabtu, 30 Juli 2016
Pokemon ohh Pokemon
(Iya saya masih susah melihat di mana letak asyiknya memainkan pokemon itu)
obrolan hangat mengenai permainan Pokemon GO.
"Dapatnya dmana?"
"Cara mnaikkan CPnya bgaimana?"
“"Tricknya dong"
"bla...bla...bla..."
“Kopi, Pak?”
“Iya mas, bru awal.., hehe”
Selasa, 10 Mei 2016
Tentang Memilih Jalan Hidup
Memiliki orangtua pintar memang berkah tersendiri sih.., Melihat track record Atta (ayah saya) di profesinya yang sekarang juga ketika masih bersekolah memang begitu cemerlang.. Saya tau itu dari Ibu, keluarga jg kerabat2 dari mereka. Lega? iya, karena sejak dulu saya tau saya punya sosok Atta yg bisa saya andalkan kalau-kalau saya tidak mengerti mengenai pelajaran sekolah..,
Sebentar, saya mau bercerita mengenai diri saya terlebih dahulu. Saya ini adalah pelajar biasa-biasa saja dari segi akademis. Saya tidak pernah maju dipanggil guru untuk mendapat penghargaan, sayapun kurang menyukai berada di kelas untuk memecahkan masalah menggunakan rumus. Waktu yang paling saya tunggu ketika sekolah hanyalah waktu istirahat dan waktu pulang.
Namun, didikan orang tua saya adalah ‘bertanggung jawab’, artinya saya harus tetap lulus dari sekolah dengan nilai baik. Terakhir saya cek di ijazah sih, rata-rata 8.8 berhasil saya dapatkan.
Hal tersebut berlanjut hingga saya kuliah. Jurusan saya adalah minat saya sendiri, tapi sebagai seorang pelajar yang sadar diri dengan kemampuan akademis yang cenderung tidak super cemerlang, saya lebih memilih menjadi mahasiswa santai tapi serius. Saya tidak pernah mengejar kesempurnaan cum laude. Saya menolak ikut remedial bila mendapat nilai B di mata kuliah berat. (saya menolak remedial untuk mata kuliah pemprograman visual delphi dan berujung nilai C di KHS akhir, iya saking susahnya untuk saya…)
Saya memilih menjadi mahasiswa santai. Datang beberapa menit sebelum kelas dmulai, keluar tepat setelah kelas selesai. Berkumpul dengan geng selepas kelas, main ke kantin di tengah mata pelajaran membosankan. Mengikuti berbagai kegiatan di luar kampus yang tak ada hubungannya dengan jurusan dan sibuk nongkrong.
Saya lulus bukan sebagai mahasiswa terbaik, boro2 maju ke dpan karena dianggap sbagai mahasiswa brprestasi, bahkan foto saya ketika tali toga dipindahkanpun tak ada dokumentasi. Tapi saya tau kewajiban saya, nilai KHS saya tidak buruk kok, setidaknya untuk syarat administrasi pendidikan diluar sana semua bisa saya lampaui. Untuk ditunjukkan depan calon mertua pun tidak memalukan.
Ya.. Intinya sih, saya ini adalah anak dengan kemampuan akademis biasa2 saja yang jauh dari cemerlang apalagi jenius.
Sebelum dilanjutkan, saya mau cerita mengenai seorang kenalan saya, sebut saja dia Andy. Andy ini 2 kali tidak naik kelas di sekolah. Iya, bukan sekali, namun 2 kali. Lulus SMA dengan susah payah, Andy melanjutkan kuliah di salah satu universitas swasta di Makassar, mengambil mata kuliah Pariwisata. Dengan susah payahpun, akhirnya dia lulus dari kampus tersebut.
Tapi percayalah, Andy adalah satu dari kenalan yang sangat saya kagumi kepintaran dan wawasannya. Andy bisa bercerita 24 jam penuh mengenai banyak hal, mengenai sepakbola, mengenai mimpi, mengenai sejarah, mengenai isu politik, mengenai faham dan dialektika, mengenai dunia, mengenai hampir apapun kecuali akademis.
Andy hanya memiliki 1 kekurangan, dia tak sanggup mengikuti pelajaran ilmu pasti dan semua cabang ilmu yang diajarkan di bangku sekolah formal. Bukan saja karena dia tak mau, tapi juga karena dia tak bisa.
Lalu, Andy jadi apa?
Andy hari ini adalah Travel Blogger, dia memilih karir sesuai yang dia inginkan dan jauh dari sisi akademis ilmu pasti. Dia jauh lebih mapan dari kakaknya yang seorang PNS. dan yang membuatku iri Andy setiap minggunya nonton bareng match Manchester United bersama fans MU di kota yg berbeda. Sosoknya juga sering wara wiri di berbagai artikel wisata. Hebatnya, Andy beberapa kali didaulat sebagai pembicara di beberapa forum universitas ternama di Makassar. Bisa bayangkan ada seorang dengan nilai akademis super jelek mengajar anak-anak dengan nilai akademis super baik?
dan yang terpenting, dia bahagia.
Dia tidak gagal.
dan dia tidak bodoh.
Kembali ke diri kita .
Apabila suatu hari nanti didapati saya tak sepintar orangtua saya dan memilih menjadi mirip Andy yang suka sekali hore-hore, sy pastikan saya bukan gagal. Pintar secara akademis itu penting, tapi ada yang jauh lebih penting lagi..
Tumbuhlah menjadi anak yang bahagia, bebas dan merdeka. Kita tidak boleh memiliki perasaan terkekang melihat profesi orangtua kita. Tidak terbebani oleh puja puji orang-orang terhadap orangtua kita
Jadilah seorang anak yang merdeka. Dan pastikan akan menjadi apapun yang kita mau, sejauh kita bertanggung jawab dan bisa menjelaskan secara sempurna mengapa kita memilih jalan itu.
Jadilah anak yang tumbuh tanpa beban dan bayang-bayang orang tua, tak apa tak dianggap pintar, yang terpenting bukan seberapa pintar nilai di atas kertas, tapi seberapa kaya kepala akan pengetahuan, hal umum juga pemikiran berkembang.
Bukan nilai di atas kertas yang akan menjadi penentu, tapi bagaimana kita bisa bermanfaat bagi sekitarnya.
Bagaimana kita bisa berdiri tegap tentang apa yang kita pilih,
Walau kita tak mirip , Ayah maupun Ibu kita..
Minggu, 17 April 2016
selamat tinggal dan selamat datang 23
Baru sempat menulis ini. Sebuah review perjalanan di usia 23.
Usia 23.
Berbagai ucapan sudah mulai masuk ke gadgetku hari itu, tak sedikitpun raga ini tergugah ingin melihat atau merayakan pergantian usia. Ku lihat jam tangan yang kebesaran berwarna abu2 yang melingkar di lengan kiriku. "beberapa menit lagi," gumamku.
Ku putuskan untuk menutup laptop dan membuka selimut, berharap tidak ada on call..
Tak ada perayaan istimewa, tak ada apapun. Yang ku ingat hanya sujud dengan tangis sedih pada shalat fardhu dan sunahku.
Ah, pesimis aku akan umur yang akan segera ku lalui.
15 April, 23:45 WITA
"beberapa menit lagi.." Gumamku, seraya melihat jam tangan besi yang pas dan sempurna di lengan kiriku. Menghitung mundur menitnya..
3.. 2.. 1..
Peluk dan cium. Kontras dengan jam yang sama tepat setahun sebelumnya.
Untuk sebuah perjalanan dan keputusan nekat yang sy ambil di usia 23.
3.. 2.. 1..
Terima kasih Tuhan..., masih mengizinkanku untuk mencapai angka 24..,
Usia 23.
Pernah benar-benar pasrah akan keputusan Tuhan..,
Pernah benar-benar menyerahkan diri atas semua hal yang akan terjadi kedepannya..,
Pernah menjalani hidup hanya menjalani apa yang disuguhkan tanpa berharap membuat cerita yg baru..,
Pernah apatis dengan cinta,
Merasa tidak akan sanggup jatuh cinta segila yang dulu sempat dirasa kepada seorang di masa lalu..,
Pernah berfikir bahwa langkah selanjutnya yang nanti apabila dilakukan hanyalah untuk penyempurnaan kehidupan..,
Pernah mengangkat telunjuk tinggi ke langit dan menyumpahi atas semua keputusan bodoh yang diambil sendiri..,
pernah meragukan semesta..,
Itu bulan pertama saya di usia 23.
Dan kamu datang. Mewarnai sisa hariku dan membangkitkan rasa percayaku akan masa depan yg indah..,
Makasiih untuk kamu..,makasih untuk stiap tawa kecilnya, makasiih untuk kebahagiannya, makasi untuk pendewasaannya, makasih untuk prhatiannya, makasih untuk nasehatnyaa, makasih untuk kegilaanya, makasih..makasih..makasih.., skali lagi terima kasih sudah membuat 23 ku lebih berwarna..,
tik tok tik tok tik tokk...
17 April , 23:50 WITA
Ohh iya beberapa menit lagi kamu memasuki usia 23, usia yang saya tinggalkan kemarin.., Selamat datang untuk 23nya kamu.., smogaa panjang umur, murah rezky, bertambah dewasa dan menjadi anak yang taat pada Allah juga berbakti pada Orangtua, wish U all the best aja dehh pokoknya. Smoga 23nya juga jauh lbih berwarna yaa.., Amin
Sabtu, 05 Maret 2016
mencintai dulu baru memiliki...
Post ini sy tulis untuk membahas tentang suatu pernyataan yang menjadi pertanyaan didiri saya.
Kemarin, saya terlibat obrolan via BBM dengan teman lama saya, sebut saja namanya Nhii. Obrolan kami cukup serius mngenai kedekatannya dengan seorang pria.
Jika saya bisa menyimpulkan, akhir dari chat kami adalah mengenai pria tersebut berharap status ikatan dengan Nhii. Tapi Nhii menolak karena dia tak bisa untuk memiliki sebelum mencintai, dan menurut Nhii hubungan itu bukan untuk sekedar coba2.
Memang sih cinta itu ngalir karena terbiasa. Ntah terbiasa bersama, atau terbiasa karena memang tidak punya pilihan untuk memiliki yang lain.
Banyak kasus di luaran sana yang memang cinta karena sering bersama, ya semacam cinta lokasi gitulah.
itu kasus yang berakhir menyenangkan,
tapi bagaimana jika,
justru kita memutuskan untuk memiliki dulu dengan harapan bisa cinta di kemudian hari?
hmmm.
Sepaham dengan Nhii dan agak berkebalikan dengan banyak orang, saya cenderung orang yang memilih untuk menyenangi dulu baru kemudian memilih untuk memiliki. Implementasi hal ini bisa ke berbagai kasus, dari mulai pembelian barang hingga urusan cinta.
Sebut saja ketika membeli sepatu, saya cenderung membeli apa yg benar2 saya sukai. Meski sepatu yang sy senangi harganya sedikit mahal dari kemampuan sy, tapi saya lebih memilih menabung lebih lama dibanding membeli yang tidak disukai dengan harapan “ah lama2 juga suka”, yang bisa jadi berujung lebih boros karena saya menyesal udah beli.
Itu sepatu, begitupun dalam pembelian benda lainnya terutama untuk benda yang lumayan merogoh tabungan. Saya enggan untuk memaksakan membeli barang yang sy tidak terlalu suka dan lebih memilih usaha lebih keras untuk memiliki hal yang saya benar2 suka.
Kenapa? alasannya sederhana.
Ketika saya memiliki hal yang benar2 saya suka, sy akan mencintai brang itu dengan sepenuh hati saya.
Saya senang memilikinya, saya senang memandangnya. Saya puas dibuatnya.
Setiap saya melihat dan memakai barang yang benar2 saya suka, saya merawatnya ekstra. Saya bangga memakai dan menunjukkannya kepada orang2.
Simpel kan analoginya?
lalu, bagimana dengan cinta?
bagaimana bila ternyata pikiran “ah, lama-lama juga cinta lah” justru malah berujung penyesalan karena dari awal sudah naif berpikir bahwa cinta itu pasti tumbuh karena intensitas pertemuan. Cinta bisa tumbuh karena seringnya pertemuan, tapi tidak bisa dipaksakan tumbuh cuma karena terus bersama.
Cinta itu hal yang dibiarkan tumbuh dan mengalir, mungkin cara salah satunya dengan seringnya bertemu. Tapi saya percaya, cinta tidak semurah itu untuk tumbuh dan bersemi karena paksaan berawal dari ikatan.
Ketika ikatan diawali oleh ketertarikan yang berujung saling jatuh cinta, maka hari akan terasa lebih ringan. Bahagia menjalani dengan orang yang memang ingin kita miliki sehidup semati, bukan belajar bagaimana untuk bahagia menjalani dengan orang yang baru2 ini masuk ke kehidupan kita dan tidak dapat kita ubah lagi.
Cinta membuat semua terasa lebih indah. Klise. Puitis. Norak. Tapi nyata.
Ikatan itu hal besar,
penting untuk mengenal, suka dan mencintai lebih dulu sebelum akhirnya memutuskan untuk memiliki dan mengikatkan diri
Ingat saja, cinta tidak semain-main itu.
selamat memilih!
Selasa, 23 Februari 2016
pilihanku untuk berdoa pada Tuhan..,
“Ayah, minta uangg….”
“Buat apa, Nak? Berapa?”
“Minta uang pokoknya, Ayah….”
“Iya berapa? Untuk apa?”
“Aduh Ayah, aku minta uang..”
“Iya Ayah kasih, tapi berapa, untuk apa?”
“Malibuu! Mau beli esklimmmmm..”
“Ohh.. lima ribu, buat beli es krim, kalau minta yang jelas dong.. Nih..”
“Horeee. Makasih Ayah..”
Dialog yang kerap terjadi bukan? Atau mungkin pernah berada pada situasi di mana ada org meminta sesuatu padamu, tpi karena tidak terlalu jelas akhirnya malah kmu abaikan atau km tunggu hingga permintaannya cukup jelas untuk kamu kabulkan..
Pernah?
Bagaimana jika ku ganti apabila objek yang diminta adalah… Tuhan?
Ada 2 tipe jenis orang yang berdoa, yang pertama adalah mereka yang memilih untuk berdoa secara umum dan pasrah mengenai apa yang diberikan asal yang terbaik, tipe kedua adalah yang memilih untuk meminta secara detail apa yg diinginkan.
Saya termasuk tipe kedua.
Ketika berdoa, saya lebih suka menjelaskan detail kepada Allah mengenai apa yang saya inginkan. Jelas dan cenderung bertele-tele juga panjang. Memang dengan seperti itu, kemungkinan kecewa akan lebih besar karena apabila tidak dikabulkan artinya semua doa kita bukan yang Tuhan mau. Tapi sy selalu percaya, jika kita beriman, Tuhan pasti memiliki jalan yang lebih baik yang hambanya tidak tau.
Tuhan itu penuh misteri, tapi sy tau, Tuhan penuh romantisme. Saya yakin sebagai orang beriman, Tuhan senang dipuja, Tuhan senang dipuji, dirayu dan diminta dengan manis. Maka begitulah caraku berdoa sesuai keyakinanku. Ku puja Ia, ku sapa Ia dengan panggilan yang baik, ku rayu Ia. Seperti seorang anak kecil yang merengek lolipop ke ayahnya, seperti seorang kekasih yang meminta pujaannya agar tersenyum kembali.
Sebagai seorang yang menganut satu agama, agamaku mengajarkan bahwa janji Tuhan adalah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan manusia, lalu mengapa lantas manusia menjadi takut meminta dan berdoa hanya karena takut doanya tak dikabulkan, atau lebih parah terjadi hal paling buruk dalam hidupnya? Yakini saja, imani saja, Tuhan sayang hambanya, dan Tuhan itu maha pemurah, terutama bagi hambanya yang meminta.
Kebiasaanku berdoa dengan detail sejauh ini tak pernah mengecewakanku. Walau terkadang, jawaban dari doa-doa yang terpanjat membutuhkan waktu dan kesabaran, tapi Tuhan tau betul mana waktu yang paling tepat. Saya juga tumbuh sebagai manusia yang percaya, bahwa semua doa yang terpanjat itu sudah aman di genggaman Tuhan dan di waktu yang tepat satu persatu doa-doa tersebut akan kembali pada pemiliknya.
Keajaiban doa.
Terlalu banyak keajaiban yang terjadi dalam hidupku. Terlalu banyak doa2 yang telah dikabulkan, Tuhan memang Maha Pemurah, bahkan untuk hambanya yang sesekali lalai mendirikan perintahnya.
Yah, tampaknya keputusan untuk memilih berdoa secara detail sudah paling pas untukku.
Karena kadang Tuhan dan selera humornya datang tanpa permisi. :))
Kamis, 18 Februari 2016
nikmati masa sekolahmu..
Mahasiswa yg harus ngejar dosen, karena mahasiswa yg butuh dosen. Dosen nggak mau ambil pusing.
Kamis, 31 Desember 2015
Catatan Akhir Tahun
Minggu, 27 Desember 2015
Halftime (Man.United vs Stoke City) Dengan Secangkir Kopi dan Seorang Teman
Babak pertama slesai, United ktinggalan dua gol dri Stoke -_-. Sy pun sdah menghabisi setengah dri cangkir kopiku. Kopi yg menemani saya tumbuh menjadi fans united di setiap matchday nya. Sebuah kondisi biasa sebenarnya, hingga tiba saya melihat seorang teman lama yang jg mnyempatkan wktunya buat nobar. Mengenakan kemeja pas badan digulung sesiku dan celana bahan. Teman yang dahulu masih sama-sama mengenakan jersey sudah tumbuh menjadi sosok pekerja ibukota,
sebut saja, Dimas..
Saya : "Heii, lgi sibuk apa sekarang? Tdk libur?"
Dimas : "Iyanih .., Kerja aja sih, sm paling nongkrong sama anak-anak."
Saya : "Apa yang sudah d dapat dari kerjaanmu?"
Dimass : "sy lagi nyicil KPR yud."
Saya : "wetss sdah beli rumah.. .,sdah punya cewe bluum? Tinggal nikahnya aja nih, rumah sudah ada.."
Dimas : "Unfortunately, sy tdk ada cewe. Gaji sy tiap bulan cuma sisa 1/3nya. Hbis buat nyicil rumah. Untuk saat ini yg paling benar ya tdk punya cewe. Bayangkan kalau sy harus nambah 1 tanggung jawab lagi, bayarin makan, bayarin jalan dll. Sekarang uang sy habis buat pulsa, buat bensin, buat nongkrong, nobar, sm main futsal dngn anak-anak,.. Kalau sy punya cewe sy harus ngorbanin salah satu hal, dan yang paling mungkin adalah sy ngurangin jatah nongkrong dan futsal, dan untuk itu sy tdk mau. Karena stress sy hilang ya saat sy lagi sama anak-anak, dengan kondisi sy yang kaya sekarang, punya cewe sedikit banyak cuma nambah kepusingan.."
BOYS


