Wanita yg paling gak bisa sy ngerti..,
Wanita yg moodnya bisa brubah sekejap dalam sepersekian detik..,
Wanita yg kekonyolannya kadang menyamarkan kepintarannya..,
Saya yg selalu memperhatikanmu.
Apa menurut kalian arti merdeka?
Sudah tidak ada lagi perang..?
Sudah tidak ada suara desingan peluru, suara meriam..?
Sudah bisa makan enak..?
Sudah bebas dalam kerusakan..?
Inikah merdeka..?
Para pahlawan berjuang untuk bisa merdeka dari penjajah bukan semata ingin lepas dari peperangan, mereka ingin agar Indonesia bebas mengurusi urusan nya sendiri, bebas dari kerja Rodi, bebas dari intimidasi negara lain.
Apakah cita2 para pahlawan bangsa ini sudah tercapai?
You know lah..,
Setiap ngomongin Indonesia lebih dalam pasti rasanya miris banget. Entah kenapa ya, saya cinta banget sama negeri ini, tapi saya ngerasa tidak banyak hal yang bisa saya lakukan buat bangsa saya sendiri. Bingung aja, bangsa ini terlalu luas dan terlalu indah sebenarnya (dalam segala hal).
Apa rasanya tinggal di rumah yang statusnya digadaikan, dan lebih gilanya lagi kamu tidak tau gimana cara nebusnya, berapa tebusannya dan kepada siapa kamu harus bayar? Bukan mau sok dramatis, tapi itulah yang saya rasakan tinggal di Indonesia (seharusnya) rumah kita tercinta.
Kalau ini rumah kita, kenapa ada banyak hal yang tidak bisa kita lakukan didalamnya karena katanya itu sudah bukan hak tuan rumah lagi? “Jangan sentuh meja itu, sudah dibayar si anu” atau “Jangan pakai kamar yang itu, sudah milik si itu” Ga asyik banget.
Terus yang bisa kita lakukan apa?
Lets start simple.
Kalau menurut saya, hal yg paling simpel melakukan perubahan yang diawali dari diri sendiri.
Bantu produk2 lokal untuk bisa berdiri sejajar dengan serbuan brand2 luar yang punya kontrak dengan pabrik disini dan memperlakukan karyawannya dengan tidak layak.
Banyak pabrik Indonesia yang memproduksi produk pakaian dan sepatu untuk brand ternama (Nike, Adidas, GAP dll) GAP adalah yang terbesar jumlah produksinya menurut John Pilger dan membayar karyawannya sangat rendah, tanpa lingkungan dan fasilitas kerja yang memadai.
Mereka bekerja bisa sampai 18 jam sehari saat kejar target ekspor di ruangan beratap rendah tanpa AC/ventilasi. Tidak boleh ambil libur, dan tidak pernah diberitahu hak2nya oleh perusahaan. Serikat buruh kitapun belum sekuat dan disegani seperti di Eropa misalnya. Bayangkan, untuk sepasang sepatu lari seharga Rp.1.299.000 pengerjanya hanya dibayar kurang dari Rp.30.000 perhari.
Seandainya brand2 lokal bisa sebesar mereka. Jutaan pekerja bisa tertampung, dan bekerja untuk sebangsanya sendiri dan saya berharap akan diperlakukan jauh lebih baik dari sebelumnya. Asal kalian tau, sebagian produk2 internasional, termasuk yang kalian beli saat kalian jalan2 diluar negeri, dibuat di Indonesia oleh buruh saudara2 sebangsa kita yang dibayar sangat murah.
Ayo besarkan karya2 lokal, paksa dunia membeli produk kita karena kita bagus! Ayo tebus lagi bangsa kita supaya anak cucu bisa lahir di negara tak berhutang.
Saya tdk munafik, saya juga masih punya dan masih tetap membeli produk2 brand luar karena faktor kebutuhan. Tapi saya lebih memprioritaskan produk lokal, dan selalu berusaha untuk bantu mempromosikan produk lokal yah walau hanya sebatas pelaku UKM.
"Berubahlah maka keadaan disekitar pasti akan ikut berubah" dan yang pasti perubahan ke arah positif.
Jangan bangga membabi buta dengan nasionalisme sempit. Bangga jadi lokal bukan berarti kamu diharamkan menggunakan bahasa Inggris/asing. Realistis aja, satu planet ngomong pakai bahasa itu. Justru kita taklukkan mereka dengan bahasa mereka sendiri.
I’m Indonesian, man! And I’m proud
71st Independence Day, God bless Indonesia
MERDEEEEEKAAA........!!!!!
Memiliki orangtua pintar memang berkah tersendiri sih.., Melihat track record Atta (ayah saya) di profesinya yang sekarang juga ketika masih bersekolah memang begitu cemerlang.. Saya tau itu dari Ibu, keluarga jg kerabat2 dari mereka. Lega? iya, karena sejak dulu saya tau saya punya sosok Atta yg bisa saya andalkan kalau-kalau saya tidak mengerti mengenai pelajaran sekolah..,
Sebentar, saya mau bercerita mengenai diri saya terlebih dahulu. Saya ini adalah pelajar biasa-biasa saja dari segi akademis. Saya tidak pernah maju dipanggil guru untuk mendapat penghargaan, sayapun kurang menyukai berada di kelas untuk memecahkan masalah menggunakan rumus. Waktu yang paling saya tunggu ketika sekolah hanyalah waktu istirahat dan waktu pulang.
Namun, didikan orang tua saya adalah ‘bertanggung jawab’, artinya saya harus tetap lulus dari sekolah dengan nilai baik. Terakhir saya cek di ijazah sih, rata-rata 8.8 berhasil saya dapatkan.
Hal tersebut berlanjut hingga saya kuliah. Jurusan saya adalah minat saya sendiri, tapi sebagai seorang pelajar yang sadar diri dengan kemampuan akademis yang cenderung tidak super cemerlang, saya lebih memilih menjadi mahasiswa santai tapi serius. Saya tidak pernah mengejar kesempurnaan cum laude. Saya menolak ikut remedial bila mendapat nilai B di mata kuliah berat. (saya menolak remedial untuk mata kuliah pemprograman visual delphi dan berujung nilai C di KHS akhir, iya saking susahnya untuk saya…)
Saya memilih menjadi mahasiswa santai. Datang beberapa menit sebelum kelas dmulai, keluar tepat setelah kelas selesai. Berkumpul dengan geng selepas kelas, main ke kantin di tengah mata pelajaran membosankan. Mengikuti berbagai kegiatan di luar kampus yang tak ada hubungannya dengan jurusan dan sibuk nongkrong.
Saya lulus bukan sebagai mahasiswa terbaik, boro2 maju ke dpan karena dianggap sbagai mahasiswa brprestasi, bahkan foto saya ketika tali toga dipindahkanpun tak ada dokumentasi. Tapi saya tau kewajiban saya, nilai KHS saya tidak buruk kok, setidaknya untuk syarat administrasi pendidikan diluar sana semua bisa saya lampaui. Untuk ditunjukkan depan calon mertua pun tidak memalukan.
Ya.. Intinya sih, saya ini adalah anak dengan kemampuan akademis biasa2 saja yang jauh dari cemerlang apalagi jenius.
Sebelum dilanjutkan, saya mau cerita mengenai seorang kenalan saya, sebut saja dia Andy. Andy ini 2 kali tidak naik kelas di sekolah. Iya, bukan sekali, namun 2 kali. Lulus SMA dengan susah payah, Andy melanjutkan kuliah di salah satu universitas swasta di Makassar, mengambil mata kuliah Pariwisata. Dengan susah payahpun, akhirnya dia lulus dari kampus tersebut.
Tapi percayalah, Andy adalah satu dari kenalan yang sangat saya kagumi kepintaran dan wawasannya. Andy bisa bercerita 24 jam penuh mengenai banyak hal, mengenai sepakbola, mengenai mimpi, mengenai sejarah, mengenai isu politik, mengenai faham dan dialektika, mengenai dunia, mengenai hampir apapun kecuali akademis.
Andy hanya memiliki 1 kekurangan, dia tak sanggup mengikuti pelajaran ilmu pasti dan semua cabang ilmu yang diajarkan di bangku sekolah formal. Bukan saja karena dia tak mau, tapi juga karena dia tak bisa.
Lalu, Andy jadi apa?
Andy hari ini adalah Travel Blogger, dia memilih karir sesuai yang dia inginkan dan jauh dari sisi akademis ilmu pasti. Dia jauh lebih mapan dari kakaknya yang seorang PNS. dan yang membuatku iri Andy setiap minggunya nonton bareng match Manchester United bersama fans MU di kota yg berbeda. Sosoknya juga sering wara wiri di berbagai artikel wisata. Hebatnya, Andy beberapa kali didaulat sebagai pembicara di beberapa forum universitas ternama di Makassar. Bisa bayangkan ada seorang dengan nilai akademis super jelek mengajar anak-anak dengan nilai akademis super baik?
dan yang terpenting, dia bahagia.
Dia tidak gagal.
dan dia tidak bodoh.
Kembali ke diri kita .
Apabila suatu hari nanti didapati saya tak sepintar orangtua saya dan memilih menjadi mirip Andy yang suka sekali hore-hore, sy pastikan saya bukan gagal. Pintar secara akademis itu penting, tapi ada yang jauh lebih penting lagi..
Tumbuhlah menjadi anak yang bahagia, bebas dan merdeka. Kita tidak boleh memiliki perasaan terkekang melihat profesi orangtua kita. Tidak terbebani oleh puja puji orang-orang terhadap orangtua kita
Jadilah seorang anak yang merdeka. Dan pastikan akan menjadi apapun yang kita mau, sejauh kita bertanggung jawab dan bisa menjelaskan secara sempurna mengapa kita memilih jalan itu.
Jadilah anak yang tumbuh tanpa beban dan bayang-bayang orang tua, tak apa tak dianggap pintar, yang terpenting bukan seberapa pintar nilai di atas kertas, tapi seberapa kaya kepala akan pengetahuan, hal umum juga pemikiran berkembang.
Bukan nilai di atas kertas yang akan menjadi penentu, tapi bagaimana kita bisa bermanfaat bagi sekitarnya.
Bagaimana kita bisa berdiri tegap tentang apa yang kita pilih,
Walau kita tak mirip , Ayah maupun Ibu kita..
Baru sempat menulis ini. Sebuah review perjalanan di usia 23.
Usia 23.
Berbagai ucapan sudah mulai masuk ke gadgetku hari itu, tak sedikitpun raga ini tergugah ingin melihat atau merayakan pergantian usia. Ku lihat jam tangan yang kebesaran berwarna abu2 yang melingkar di lengan kiriku. "beberapa menit lagi," gumamku.
Ku putuskan untuk menutup laptop dan membuka selimut, berharap tidak ada on call..
Tak ada perayaan istimewa, tak ada apapun. Yang ku ingat hanya sujud dengan tangis sedih pada shalat fardhu dan sunahku.
Ah, pesimis aku akan umur yang akan segera ku lalui.
15 April, 23:45 WITA
"beberapa menit lagi.." Gumamku, seraya melihat jam tangan besi yang pas dan sempurna di lengan kiriku. Menghitung mundur menitnya..
3.. 2.. 1..
Peluk dan cium. Kontras dengan jam yang sama tepat setahun sebelumnya.
Untuk sebuah perjalanan dan keputusan nekat yang sy ambil di usia 23.
3.. 2.. 1..
Terima kasih Tuhan..., masih mengizinkanku untuk mencapai angka 24..,
Usia 23.
Pernah benar-benar pasrah akan keputusan Tuhan..,
Pernah benar-benar menyerahkan diri atas semua hal yang akan terjadi kedepannya..,
Pernah menjalani hidup hanya menjalani apa yang disuguhkan tanpa berharap membuat cerita yg baru..,
Pernah apatis dengan cinta,
Merasa tidak akan sanggup jatuh cinta segila yang dulu sempat dirasa kepada seorang di masa lalu..,
Pernah berfikir bahwa langkah selanjutnya yang nanti apabila dilakukan hanyalah untuk penyempurnaan kehidupan..,
Pernah mengangkat telunjuk tinggi ke langit dan menyumpahi atas semua keputusan bodoh yang diambil sendiri..,
pernah meragukan semesta..,
Itu bulan pertama saya di usia 23.
Dan kamu datang. Mewarnai sisa hariku dan membangkitkan rasa percayaku akan masa depan yg indah..,
Makasiih untuk kamu..,makasih untuk stiap tawa kecilnya, makasiih untuk kebahagiannya, makasi untuk pendewasaannya, makasih untuk prhatiannya, makasih untuk nasehatnyaa, makasih untuk kegilaanya, makasih..makasih..makasih.., skali lagi terima kasih sudah membuat 23 ku lebih berwarna..,
tik tok tik tok tik tokk...
17 April , 23:50 WITA
Ohh iya beberapa menit lagi kamu memasuki usia 23, usia yang saya tinggalkan kemarin.., Selamat datang untuk 23nya kamu.., smogaa panjang umur, murah rezky, bertambah dewasa dan menjadi anak yang taat pada Allah juga berbakti pada Orangtua, wish U all the best aja dehh pokoknya. Smoga 23nya juga jauh lbih berwarna yaa.., Amin
Post ini sy tulis untuk membahas tentang suatu pernyataan yang menjadi pertanyaan didiri saya.
Kemarin, saya terlibat obrolan via BBM dengan teman lama saya, sebut saja namanya Nhii. Obrolan kami cukup serius mngenai kedekatannya dengan seorang pria.
Jika saya bisa menyimpulkan, akhir dari chat kami adalah mengenai pria tersebut berharap status ikatan dengan Nhii. Tapi Nhii menolak karena dia tak bisa untuk memiliki sebelum mencintai, dan menurut Nhii hubungan itu bukan untuk sekedar coba2.
Memang sih cinta itu ngalir karena terbiasa. Ntah terbiasa bersama, atau terbiasa karena memang tidak punya pilihan untuk memiliki yang lain.
Banyak kasus di luaran sana yang memang cinta karena sering bersama, ya semacam cinta lokasi gitulah.
itu kasus yang berakhir menyenangkan,
tapi bagaimana jika,
justru kita memutuskan untuk memiliki dulu dengan harapan bisa cinta di kemudian hari?
hmmm.
Sepaham dengan Nhii dan agak berkebalikan dengan banyak orang, saya cenderung orang yang memilih untuk menyenangi dulu baru kemudian memilih untuk memiliki. Implementasi hal ini bisa ke berbagai kasus, dari mulai pembelian barang hingga urusan cinta.
Sebut saja ketika membeli sepatu, saya cenderung membeli apa yg benar2 saya sukai. Meski sepatu yang sy senangi harganya sedikit mahal dari kemampuan sy, tapi saya lebih memilih menabung lebih lama dibanding membeli yang tidak disukai dengan harapan “ah lama2 juga suka”, yang bisa jadi berujung lebih boros karena saya menyesal udah beli.
Itu sepatu, begitupun dalam pembelian benda lainnya terutama untuk benda yang lumayan merogoh tabungan. Saya enggan untuk memaksakan membeli barang yang sy tidak terlalu suka dan lebih memilih usaha lebih keras untuk memiliki hal yang saya benar2 suka.
Kenapa? alasannya sederhana.
Ketika saya memiliki hal yang benar2 saya suka, sy akan mencintai brang itu dengan sepenuh hati saya.
Saya senang memilikinya, saya senang memandangnya. Saya puas dibuatnya.
Setiap saya melihat dan memakai barang yang benar2 saya suka, saya merawatnya ekstra. Saya bangga memakai dan menunjukkannya kepada orang2.
Simpel kan analoginya?
lalu, bagimana dengan cinta?
bagaimana bila ternyata pikiran “ah, lama-lama juga cinta lah” justru malah berujung penyesalan karena dari awal sudah naif berpikir bahwa cinta itu pasti tumbuh karena intensitas pertemuan. Cinta bisa tumbuh karena seringnya pertemuan, tapi tidak bisa dipaksakan tumbuh cuma karena terus bersama.
Cinta itu hal yang dibiarkan tumbuh dan mengalir, mungkin cara salah satunya dengan seringnya bertemu. Tapi saya percaya, cinta tidak semurah itu untuk tumbuh dan bersemi karena paksaan berawal dari ikatan.
Ketika ikatan diawali oleh ketertarikan yang berujung saling jatuh cinta, maka hari akan terasa lebih ringan. Bahagia menjalani dengan orang yang memang ingin kita miliki sehidup semati, bukan belajar bagaimana untuk bahagia menjalani dengan orang yang baru2 ini masuk ke kehidupan kita dan tidak dapat kita ubah lagi.
Cinta membuat semua terasa lebih indah. Klise. Puitis. Norak. Tapi nyata.
Ikatan itu hal besar,
penting untuk mengenal, suka dan mencintai lebih dulu sebelum akhirnya memutuskan untuk memiliki dan mengikatkan diri
Ingat saja, cinta tidak semain-main itu.
selamat memilih!
“Ayah, minta uangg….”
“Buat apa, Nak? Berapa?”
“Minta uang pokoknya, Ayah….”
“Iya berapa? Untuk apa?”
“Aduh Ayah, aku minta uang..”
“Iya Ayah kasih, tapi berapa, untuk apa?”
“Malibuu! Mau beli esklimmmmm..”
“Ohh.. lima ribu, buat beli es krim, kalau minta yang jelas dong.. Nih..”
“Horeee. Makasih Ayah..”
Dialog yang kerap terjadi bukan? Atau mungkin pernah berada pada situasi di mana ada org meminta sesuatu padamu, tpi karena tidak terlalu jelas akhirnya malah kmu abaikan atau km tunggu hingga permintaannya cukup jelas untuk kamu kabulkan..
Pernah?
Bagaimana jika ku ganti apabila objek yang diminta adalah… Tuhan?
Ada 2 tipe jenis orang yang berdoa, yang pertama adalah mereka yang memilih untuk berdoa secara umum dan pasrah mengenai apa yang diberikan asal yang terbaik, tipe kedua adalah yang memilih untuk meminta secara detail apa yg diinginkan.
Saya termasuk tipe kedua.
Ketika berdoa, saya lebih suka menjelaskan detail kepada Allah mengenai apa yang saya inginkan. Jelas dan cenderung bertele-tele juga panjang. Memang dengan seperti itu, kemungkinan kecewa akan lebih besar karena apabila tidak dikabulkan artinya semua doa kita bukan yang Tuhan mau. Tapi sy selalu percaya, jika kita beriman, Tuhan pasti memiliki jalan yang lebih baik yang hambanya tidak tau.
Tuhan itu penuh misteri, tapi sy tau, Tuhan penuh romantisme. Saya yakin sebagai orang beriman, Tuhan senang dipuja, Tuhan senang dipuji, dirayu dan diminta dengan manis. Maka begitulah caraku berdoa sesuai keyakinanku. Ku puja Ia, ku sapa Ia dengan panggilan yang baik, ku rayu Ia. Seperti seorang anak kecil yang merengek lolipop ke ayahnya, seperti seorang kekasih yang meminta pujaannya agar tersenyum kembali.
Sebagai seorang yang menganut satu agama, agamaku mengajarkan bahwa janji Tuhan adalah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan manusia, lalu mengapa lantas manusia menjadi takut meminta dan berdoa hanya karena takut doanya tak dikabulkan, atau lebih parah terjadi hal paling buruk dalam hidupnya? Yakini saja, imani saja, Tuhan sayang hambanya, dan Tuhan itu maha pemurah, terutama bagi hambanya yang meminta.
Kebiasaanku berdoa dengan detail sejauh ini tak pernah mengecewakanku. Walau terkadang, jawaban dari doa-doa yang terpanjat membutuhkan waktu dan kesabaran, tapi Tuhan tau betul mana waktu yang paling tepat. Saya juga tumbuh sebagai manusia yang percaya, bahwa semua doa yang terpanjat itu sudah aman di genggaman Tuhan dan di waktu yang tepat satu persatu doa-doa tersebut akan kembali pada pemiliknya.
Keajaiban doa.
Terlalu banyak keajaiban yang terjadi dalam hidupku. Terlalu banyak doa2 yang telah dikabulkan, Tuhan memang Maha Pemurah, bahkan untuk hambanya yang sesekali lalai mendirikan perintahnya.
Yah, tampaknya keputusan untuk memilih berdoa secara detail sudah paling pas untukku.
Karena kadang Tuhan dan selera humornya datang tanpa permisi. :))