Senin, 14 Juni 2021

value of life

Kisah ini terjadi pada 2 Desember 2012 silam. Pria kelahiran 19 Juni 1988 dalam Kompetisi Burlada Navarre, Spanyol, membuka mata dunia tentang harga sebuah kemenangan. Pria itu adalah Iván Fernandez Anaya.

Pergelaran lari maraton itu, Fernandez tepat berada di posisi kedua dan agak jauh dari Abel Mutai. Mutai adalah pelari asal Kenya hanya berjarak beberapa meter saja dari garis finish, tetapi karena bingung dengan tanda-tanda garis finish ia berhenti berlari. Dia berpikir bahwa dia telah menyelesaikan perlombaan itu.

Iván Fernandez Anaya, yang berada tepat di belakangnya dan menyadari apa yang terjadi, dia mulai berteriak kepada Abel Mutai untuk terus berlari, tetapi Abel Mutai tidak bisa berbahasa Spanyol dan tidak mengerti dengan teriakan Iván.

Menyadari itu, Iván lalu mendempeti Mutai. Ia tepat berada di sisi belakang, tak mau mendahului dan memanfaatkan kekeliruan Mutai.

Ia mendorong Mutai sehingga mereka bisa tetap berlari dan Iván tetap berada di sisi belakang Mutai. Akibat sikapnya itu, Abel Mutai tetap meraih kemenangannya.

Atas sikap Iván Fernandez itu mengundang tanya hadirin dan wartawan yang menyaksikan pertandingan itu. 

Setelah mereka mencapai garis finis dan pertandingan berakhir, seorang wartawan lalu bertanya kepada Iván: "Mengapa anda melakukan itu?" Iván menjawab: "Mimpi saya adalah suatu hari nanti kita dapat hidup bersama dan memiliki moral yang baik, dapat memiliki semacam kehidupan di mana kita mendorong diri kita sendiri dan saling membantu untuk menang"

Belum puas dengan jawaban Iván Fernandez. Wartawan itu mempertegas pertanyaan sebelumnya.: "Tapi mengapa anda membiarkan orang Kenya itu menang?" Iván menjawab: "Saya tidak membiarkan dia menang, memang dia akan menang, Perlombaan ini adalah miliknya,”

Wartawan itu menodong pertanyaan lagi: "Tapi anda bisa menang jika tidak membantunya" Iván memandangnya dan menjawab: "Tapi apa arti dari kemenangan saya? Apa kehormatan dari medali itu? Apa yang akan Ibu saya pikirkan dan katakan tentang itu kepada saya?"

Kisah Fernandez itu seperti suluh di gelap mata manusia dari simpang sportivitas. Era kekeringan moral dan kesemrawutan etik yang dinamai disrupsi, memotret buas manusia melakukan segala apapun untuk menang.

Sportivitas adalah mutiara tiada tara. Kemenangan hakiki adalah keteguhan kepada nilai sportivitas padahal ada kesempatan terbuka untuk orang tidak terlalu menyoalkan sikap itu.

Betapa hebat Ibu yang menanamkan sportivitas hingga di posisi yang bisa saja orang lain memaklumi jika Iván Fernandez mengambil kesempatan untuk tidak memperdulikan Abel Mutai. Ibulah yang menjadi alasannya untuk tetap baik.

Kita tentu bisa mengambil pelajaran yang berharga dari kisah tersebut. Terima kasih Iván Fernandez Anaya. Terima kasih juga untuk Ibumu.

Nilai-nilai diturunkan dari generasi ke generasi. Inilah "Value of Life"

Selasa, 18 Mei 2021

berteman dengan isi kepala

Ada yang pulang ke rumah dengan membawa keresahan dan kecemasan, kian malam semakin tak terkendali. Membawa pemikiran semakin jauh dari kenyataan yang ada.

Tidak jarang bahkan air matanya sudah menetes, dari mana datangnya dan milik siapa kesedihan itu? mungkin beberapa keresahan yang telah disembunyikan dan menumpuk setelah sekian lama. Atau mungkin juga memang lagi lelah saja dan ingin menangis.

Terlarut dalam suatu penyesalan, rasa bersalah hingga rasa kehilangan yang pernah memilukan. Namun kita lupa bahwa kehilangan terburuk adalah kehilangan diri sendiri.

Kekosongan yang selama ini menghantui, memberatkan nafas, ternyata bukan karena merasa tidak dicintai, namun karena sedang tidak ada yang bisa kita cintai, bahkan untuk diri sendiri.

Ketika merasa nyaman dengan diri sendiri,  kita bisa bertanya-tanya kenapa dengan hanya segelas kopi hangat, menonton video-video youtube, sampai kegiatan-kegiataan yang jauh dari rutinitas kita bisa lebih menenangkan dan menyembuhkan ketimbang dunia yang sedang kita jalani sekarang.

Terkadang kenyamanan datang dari tempat yang jauh, Sebelum akhirnya kita tersadar, ternyata tempat ternyaman adanya di dalam diri sendiri, ketika kita mampu berseblahan dengan kecemasan itu sendiri. Maka tempat pulang semuanya pun akan aman.

Setelah dapat berteman dengan isi kepala, kita akan belajar untuk tidak terganggu sama berisiknya orang lain yang belum nyaman dengan dirinya.

Tidak heran kalau ada orang yang bilang "kita aneh saat kita bisa nyaman dengan diri kita sendiri". Mungkin buat mereka, kenyamanan hanya ada saat bersamaan dengan orang lain, tertawa bersama teman, meneriaki sesuatu sama-sama, karena bagi mereka tidak ada yang menyenangkan dalam dirinya sendiri, Wajar.

Anggap saja, dalam diri kita sedang ada yang terluka, karena semangat untuk sembuh dan tumbuh hanya dimiliki oleh orang-orang yang sadar dirinya sedang terluka dan memerlukan bantuan, dibanding mereka yang tidak merasa entah karena membohongi diri dan menyembunyikan luka itu.

Kalau suatu hari nanti kita melihat seseorang yang sedang merasa berantakan atau tidak berguna, tugas kita adalah ingatkan mereka tentang apa saja yang sudah mampu mereka raih. Ingatkan seberapa besar ia punya arti di hidup kita. Maka ia akan belajar membuat narasi untuk dirinya sendiri, punya alasan untuk dijelaskan pada jiwanya sendiri. Hingga lahirlah keberanian untuk melakukan hal-hal lainnya yang lebih besar dari apa yang telah ia lakukan sebelumnya dalam hidup.

Kadang saat lelah, mungkin tubuh hanya butuh sandaran tanpa saran, duduk berseblahan dan saling diam, merasa diizinkan untuk bernafas lebih berat dari biasanya, membiarkan sunyi dengan berisiknya isi kepala, hingga di dalamnya menenang dengan sendirinya.

Selasa, 22 Desember 2020

Terimakasih Mah

Hiiii Mah
Apa kabar mama disana...
18 tahun sudah...

Mah, Kita memang belum kenal secara personal, tapi entah kenapa sy sangat merasa dekat dngan mama, saya bisa merasakan kasih sayangnya mama, dari cerita2 anak mama saya merasa sangat kenal dekat dengan mama. Saya ingat awal pertama ketemu mama sehari setelah akad nikah, dia yang dengan antusiasnya mengenalkan kita mah, menyiapkan kembang untuk menghias rumah mama, bahkan sampai saat sekarang dia slalu semangat klo bercerita tentang mama. 

Mah tau tidak.? dia slalu berpikir mah klo cuma dia yg paling sayang sama mama, ternyata ada yg lebih sayang lagi yaitu Allah. 

Dia sudah berjuang sembuh dari trauma itu mah, sudah mulai berdamai dengan keadaan, mulai mengerti ada hal dalam hidup ini yang tidak bisa kita beli, karena sudah menjadi ketetapanNYA. 

Mama tidak usah khawatir, dia sudah ada saya kok mah, yang akan slalu jagain dia. Mama tinggal jagain kita dari surga ya. 

Terimakasih ya mah udah ngelahirin dan membesarkan dia, apa2 yg kurang dariku dia slalu melengkapi mah, apa2 yang tidak kupunya dia juga tdk pernah menuntut, bahkan klo sy ada salah dia slalu menegur dengan baik, ya walau terkadang sedikit cerwet sih haha. 

Alasan apa yang  membuat saya tidak bersyukur memiliki anak mama.?? Sekali lagi terima kasih mah, terima kasih telah melahirkan dia untuk melengkapi hidup saya. 


Bahagia dan tenang disana ya mah. Kami janji mah akan slalu menyapa mama disetiap sholat kami. Kami sungguh sangat amat benar2 sayang sm mama, sampai ketemu nanti ya mah. 

SELAMAT HARI IBU, MAH... :*

Selasa, 17 November 2020

Rumah

Keinginan saya sederhana. Saya ingin menciptakan rumah untuk keluarga saya, tempat pulang untuk mereka. Sebuah keinginan sederhana, untuk keutuhan keluarga.

Menciptakan rumah yang bukan hanya sekedar bangunan kokoh bertembok, beratap dan berpagar. Lebih dari itu. 

Mungkin beberapa orang mengartikan rumah hanya sebatas bangunan tempat tinggal. Hanya sebagai tempat untuk memejamkan mata. Tempat untuk mengambil barang yang tertinggal untuk kemudian pergi lagi.

Merasa kosong, sepi, bahkan ketika rumahnya ramai. Merasa tidak terlalu butuh untuk kembali ke tempat biasa berganti pakaian yang sudah mulai lusuh. Merasa bahwa masalah tidak akan berkurang, hanya karena berbaring di situ. 

Alangkah sedih dan lelahnya manusia bila ia sedang kalut2nya ia tidak tau ke mana ia harus mencari penghiburan, atau ketika merebah tubuh hanya untuk sementara tanpa meninggalkan rasa apa2.

Mereka2 ini tidak tau di mana hatinya tinggal. Atau mungkin mereka tau, tapi saat itu, hatinya tidak tergapai. Tidak pernah merasa benar2 pulang ke tempat yang semestinya ketika sedang berada di rumah, tempat yang meringankan beban walau tidak mengurangi masalah. 

Bagi saya, rumah lebih dari sekedar bangunan tempat tinggal. Rumah adalah tempat nyaman berisi orang2 yang disayang. Tempat pulang untuk melepas lelah, tempat yang menjadikan hidup lebih baik, walau dengan masalah yang sama.

Nantinya saya berharap rumah yang saya ciptakan adalah tempat berkumpulnya keluarga kecil yang membangun rasa nyaman di hati. Tidak peduli itu walau hanya rumah yang sederhana, tidak bertingkat, tidak berlantai marmer, jendela tidak menghadap bukit, tapi selalu menjadi tempat saya, istri dan anak2 saya nantinya selalu merasa nyaman. 

Rumah yang rapi dan enak dilihat, rumah yang ramah dan hangat penuh cinta. Rumah yang menyenangkan juga menenangkan.

Setidaknya, mereka selalu benar2 merasa pulang, lelah tersalurkan, rindu tersampaikan dan dapat menemukan hatinya ketika sedang berada di rumah. 


Banyak dari orang2 yang mengenal kata Rumah, tapi tidak mengenal kata Pulang. Karena bagi mereka, pulang hanya untuk berseka dan tidak menemukan hatinya di Rumah. 

Jangan lupa merapikan diri sendiri ketika selesai merapikan rumah yang berdiri.

Bissmillahirrahmanirahim. 

Senin, 20 April 2020

Membuat Nyaman dan Risih Lawan Bicara Ternyata Semudah Itu

Kalian pernah memiliki kenalan yang mungkin hidupnya pahit sehingga setiap kita sharing keputusan maupun rencana dalam hidup ia akan selalu menanggapi dengan pernyataan negatif?

X : “sudahka order baju di shop...”
Y : “hmm, jelek-jelek modelnya di sana..”

padahalkan ini perkara selera

X : “coba deh staycation di hotel sana..., bgus kyaknya”
Y : “bgaimana nda bagus, harganya sja mahal.”

padahal ya yang keluar uang kita juga..

X : “weekend sekali-kali ke pantailah....”
Y : “deehh pantai, di sana ituuh ya cuma pantaiji, ndadami yang menarik lainnya.”

lagi-lagi, yang bayarkan juga bukan dia.

X : “mau lanjut sekolah lagi, bukan buat karir memang, tapi karena ego sendiriji"
Y : “deeehh, habis2in waktu saja”

otak yang dipake otak kita, waktu yang kebuang juga waktu kita.

X : “langganan paket internet provider yang itu, ada paket unlimitednya”
Y : “ribetttt woy.. provider yg itu ribett sekali daftarnya.”

kebutuhan juga, kebutuhan kita.

Familiar?
Atau malah, secara tidak sadar kita sendiri juga memperlakukan orang seperti itu? Mudah menanggapi rencana dan pilihan seseorang dengah hal negatifnya?

Terlepas dari niatnya yang memang memberikan tanggapan dan anggapan jujur mengenai hal yang kita maksud, tapi buat saya, hal terbaik yang bisa diberikan lawan bicara adalah tanggapan yang baik untuk hal netral, apalagi untuk hal baik, dan bukan sebaliknya.

Pengalaman pribadi mengenai hal-hal yang berkaitan bisa disampaikan sebagai bentuk sharing yang tidak perlu menjatuhkan sebuah pilihan. Terlihat simpel, tapi sering terlupakan bagi kita yang terbiasa dengan blak-blakan juga kejujuran.

Berlindung di balik “Mending jujur daripada fake.”

Walaaaah,
Ada yang terlupa bahwa jujur tidak selalu identik dengan kepalsuan, bahwa menghargai pilihan, sekontra apapun dengan yang kita ambil, tetap bukan sebuah kepalsuan melainkan pengendalian diri untuk menjadi manusia yang nyaman untuk diajak bercerita.


X : “InsyaAlah Doottt, tahun depan nikahma, doakan nahh .”
Y : “yayaya Alhamdulillah, Tapi ingat nah, masalah berumah tangga itu beda dengan masalah pacaran, jadi kalau mau maju lebih jauh, pastikan dlu paham apa yang bakalan terjadi ke depannya..”

 
X : “bulan depan rencana mau traveling ke kota inii sendirian, rencana saya mau nonton langsung laga PSM makassar away jg dsana”
 Y : “wuihhh!! akhirnya, btw, kota itu tingkat kriminalitasnya tinggi, apalagi untuk solo traveler. hati-hati saja di sana, atau kalau mau ganti destinasi banyak kota yang lebih ramah dan nyaman.”

 
X : “coba deh makan di cafe yang disana, kayaknya enak makanannya.”
Y : “tempatnya bagusssss.. makanannya biasa, tpi kalau kamu cari suasana dan mau foto-foto, bisalah.”

Menghargai keputusan seseorang semudah itu seharusnya.!!

Semoga kita selalu dihindari dari masuk ke golongan orang-orang yang malas diajak diskusi karena selalu menyanggah pernyataan tanpa melihat konteks keseluruhan.

Senin, 17 Juni 2019

sepuluh hari dari sekarang

Apa yang bisa diceritakan oleh satuan waktu? Sebuah transformasi, dari seorang yang sangat dikenal menjadi seorang yang begitu asing, dan begitupun sebaliknya seorang asing yang tiba-tiba menjadi bagian hidup.

Tepat satu setengah tahun lalu, ketika itu saya iseng mengajaknya untuk keluar, dia yang ternyata lingkungan kami pernah sangat dekat. Saya tidak tahu alasan dia menerima ajakanku malam itu, mungkin karena lagi kosongnya atau karena cuma managih traktir makan malam yang pernah saya janjikan di percakapan whatsApp sebelumnya.

Tanpa ekspekstasi berlebih, hanya sekedar mengisi hari minggu yang sama saja dengan minggu minggu sebelumnya, jalan dengan siapapun yang diajak maupun yang mengajak.

Ketika itu, hidup sedang stagnan-stagnannya, mulai apatis dengan cinta.

Dengan setelan kaos berwarna putih dipadukan sedikit biru muda di bagian lengan, converse buluk dan rambut tertata apa adanya saya memutuskan untuk menghabiskan waktu malam itu.

Entah apa yang menarik perhatian dari seorang wanita yang hanya mengenakan kameja polos, dengan makeup natural sederhana. Tapi semakin saya berbicara banyak dengannya, semakin saya ingin mengenal orang ini lebih dalam. Mungkin karena pintarnya dia dalam perbincangan (cepat nyambung tapi tdk sok tau), pun dengan sopannya (dia tidak sama sekali menyentuh gadget dan menahan kebiasaan bermain gadgetnya agar tidak menyinggung perbincangan kami).

Apapun, kami memutuskan untuk menutup malam itu dengan dua mangkuk mie ramen, sepiring chiken wings dan dua gelas ice greentea pada sebuah tempat makan bermeja persegi, bertempat duduk lesehan sofa.

Lucu, 2 gelas minuman menemani perbincangan kami malam itu bisa menjadi sebuah penentu awal cerita.

Sebuah keputusan dan sebuah pembuka bagi jalan berikutnya.

10 hari dari sekarang,
kami akan duduk bersama. Berjanji kepada Tuhan kami untuk sehidup semati membangun kehidupan mengatasnamakan ibadah.

10 hari dari sekarang,
masih tak terbayang jika malam itu, saya menerima ajakan temanku untuk nobar bigmatch MU vs Arsenal.

10 hari dari sekarang,
juga masih tak terbayang jika hari itu, saya tidak memberanikan diri untuk mengajaknya, wanita yg mnjadi tetangga kelasku semasa SMA.

Mungkin ceritanya bukan seperti ini.


Selasa, 05 Februari 2019

akankah rasanya akan sama..???

a : belum ngantuk.??
b : sdah ngantuk, tduur dluaan yaa
a : iya tduur gih
b : km jg tidur
a : selamat malam,
b : selamat malam jg, dadah
a : jangan bebe :p
b : hahahahaaa..

Siapa yg pernah merasakan moment receh seperti tergambar di atas? Tersenyum diam2 melihat layar handphone di penghujung percakapan menjelang tiduur..,

Lalu kemudian sy terdiam dan berpikir, ketika jarak sudah tdk berbatas, ketika kamar menjadi tempat yg tak lagi taboo bagi sepasang kekasih dan tempat tidur bukan lagi tempat yg dijauhi, akankah rasanya sama seperti itu.? Seperti saat tanganku mengelilingi punggung dan pundakmuu, mencuri suasana karena rindu.

Akankah rasanya sama.? Ketika piring steak yg biasa kita lahap depan mata adalah hasil perhitungan jeli mengenai “Makan apa kita selanjutnya kalau malam ini uang dihabiskan untuk makan steak?”, bukan karena steak tersebut adalah ‘traktiran’ sy di hari kencan kita.

Akankah rasanya sama? Ketika sy mentraktirmu adalah hasil pertimbangan panjang dan pembagian uang tabungan, uang pangan pengisi kulkas dan tagihan listrik, bukan sekedar sisa gaji seperti skrg, saat dimana tiba waktunya makan adalah tiba pula pesan singkat berisi “bee, makan dirumah tdk? Kalau tdk, sy tdk masak..”

Akankah rasanya sama? Ketika setiap malam kita sudah bisa berbagi tempat tidur dan sy bisa memelukmu, menggenggam tanganmu erat kapan saja seperti ketika sy menggenggam erat tanganmu namun singkat ketika orang sibuk dengan pekerjaannya dan tidak melihat ke arah kita.

Akankah rasanya akan sama.?

Rasanya itu semua tidak akan sama. Karena ketika berbicara mengenai hidup, kita tak luput berbicara tentang perubahan dan penggantian tingkat kebahagiaan.

Selalu akan ada yg brubah..
Ketika sudah tdkk ada lagi muka bete karena kencan yg dirasa belum puas tetapi kita sudah sampai di depan rumahmu.. Ya, karena kita kan pulang ke rumah yg sama.

Ketika sudah tidak ada lagi rasa canggung melihat adegan intim pada sebuah film karena kamar kita kelak walau kecil, sudah bisa menjadi tempat melampiaskan semua angan dan mungkin saja menjadi saksi “si kecil” yang akan lahir, nanti.

Ketika sudah tidak ada lagi pertengkaran mengenai kabar yg terlambat datang, walau mungkin nantinya kita akan bertengkar mengenai kamu atau saya yg pulang terlambat karena pekerjaan yg masih menumpuk.

Ketika kita harus berbagi rak sepatu, ketika kamu sudah merencanakan memisahkan sepatu kerja dan spatu olahragaku di rak paling bawah dan sepatu hak tinggimu di rak sisanya. Ketika kamar mandi didominasi wangi favoritmu dan ketika dinding kamar merupakan hasil pilihan warna diskusi panjang kita. Saya tau, hidup akan semakin berat, karena bukan lagi masalah jadwal tayang bioskop yg akan kita ributkan, tapi tentang jadwal mencuci pakaian kita, atau mungkin jadwal cuti liburan kita.

Hidup akan semakin rumit, tentang cicilan rumah, tentang tabungan masa depan, tentang biaya sekolah dan tentang pembagian waktu.
Hidup akan tak lagi sama,
tapi saya percaya, sejauh kamu sudah halal untuk di sisi, semua kerumitan akan menjadi lebih berarti.

Bismillah.

Jumat, 24 Agustus 2018

berdoa untuk berterimakasih

Saya tidak pernah dididik oleh Orangtua saya untuk mengeluh, apalagi mengeluhkan hal kecil. Saya masih selalu ingat bagaimana mereka mendidik saya untuk selalu bersyukur dengan rentetan cerita beliau mengenai masa kecilnya yang susah, masa mudanya yang kelam dan tentang lompatan-lompatan hidupnya yang bila ada kata “menyerah” dan “berkeluh kesah” di kamus mereka, mungkin sekarang ini saya tidak ada.

Itu sedikit cerita tentang orangtua saya.

ada kalimat penting yang terpatri tepat di hati “Ketika berdoa, selain untuk meminta, yang didahulukan adalah berterimakasih.”

Bertahun-tahun saya hidup dan kalimat tersebut baru benar-benar saya bisa maknai. Harus saya akui, hidup saya sebagai seorang anak manusia tidak bisa masuk ke dalam kategori “susah” apalagi “melarat”, lagi-lagi terima kasih untuk Orangtua saya khususnya Atta karena tidak pernah sekalipun menyerah juga pasrah untuk hidupnya, dan hidup keluarganya.

Tapi ada yang tidak pernah saya sangka adalah, bahwa memutuskan untuk tak lagi bergantung ke orang tua itu, ternyata seperti bahu memikul batu besar tapi ia tetap di sana, bagaimanapun kita mencoba menyingkirkan. Seringan-ringannya, beban itu ada. Saya bukan pencerita mengenai masalah yang dihadapi, maupun deretan aib yang telah saya lewati, jadi mari abaikan saja tentang diri saya hari ini, karena saya mau bercerita mengenai saya, yang ternyata..

begitu sering berpangku tangan dengan hal bernama “doa”.

Sebagai seorang beragama, jelas orangtua saya mengajari saya untuk berdoa. Untuk meminta, dan memasrahkan segala daya upaya yang telah dijalankan. Mengangkat tangan ke atas, seakan mengkhawatirkan kuasa Allah Sang Pemberi Rezeki. Dengan bahasa parau, bersujud meminta, sepasrah-pasrahnya.

Setelah selesai berdoa, maka hidup tetap berjalan. Mencari apa yang kita tuju, menemui apa yang kita mau. Lalu, kita kembali berdoa.

Meminta agar apa yang tadi kita upayakan, menjadi nyata. Lalu siklus tersebut berulang, dan baru berterima kasih, ketika doa yang kita panjatkan dengan susah payah itu menjadi nyata.

Malam ini, saya melihat seorang kakek tua yang masih menjajakan barang dagangannya yang tidak seberapa di pinggiran jalan. Saya, yang dengan segenap sisa kekuatan untuk kembali pulang ke rumah, untuk kembali menjalani ritual doa saya untuk mendapatkan hasil akan ikhtiar yang saya lakukan.

Kakek tersebut, masih di jalan. Menjajakan dagangannya.

Hati perih,
Bukan hanya karena merasa mengapa dunia tidak adil memberikan cobaan begitu beratnya pada sosok sepuh yang tenaganya tidak seberapa, bukan hanya karena saya harus bersyukur bahwa saya sedang berada dalam posisi yang nyaman, walau sedang sama-sama berjuang. Saya dan kakek itu sama, kita sedang sama2 berjuang.

Saya tidak mengenal kakek tersebut, tidak sama sekali. Maaf Ya Allah, saya tidak kuat untuk mendekati kakek tersebut untuk membeli dagangannya karena emosi saya tidak mengizinkannya, karena saat itu, hati saya sehancur itu.

Tapi, omongan orangtua saya terngiang tentang pentingnya berdoa untuk berterimakasih.

Lelah, frustrasi, marah dan hampir menyerah adalah awal dari kurangnya berterimakasih dalam doa. Saya, terlalu fokus untuk meminta, lupa untuk berterimakasih. Saya, terlalu menghamburkan tenaga untuk berjuang, terlalu sedikit menyisihkan kelapangan hati untuk sekedar bilang kepada Allah..

“Terima kasih ya Allah, hingga hari ini saya masih diberi kesempatan untuk hidup. Diberikan kekuatan untuk berjuang, diberikan nikmat iman untuk percaya bahwa Engkau itu ada. Bahwa Engkau selalu mendengar doa-doa baik yang dipanjatkan.”

indeed, we have our own battlefield,
tapi Allah Maha Adil, kawan.

Karena seberapapun berbedanya area perang kita yang sedang diperjuangkan, Ia memberikan perasaan yang sama,

tinggal kita,

mau berterima kasih, atau tidak.

Kamis, 12 Juli 2018

memuji dengan tulus, bukan menjilat

Kemarin di salah satu kasir pusat perbelanjaan Kota Makassar, secara tidak sengaja saya bertemu dengan seorang berkewarganegaraan asing, beliau dengan sok kenalnya menyapa saya dan menjelaskan sedikit masalah yang didapatnya., mungkin karena id card kantor yang masih trgantung di dadaku sehingga beliau merasa mendapat orang yang tepat untuk memecahkan masalahnya.

Dari hasil penjelasannya saya berhasil menangkap kendala yang dimaksud.

Aplikasi alat bayar yang dikeluarkan oleh perusahaan tempatku bekerja memang membutuhkan kode OTP untuk mendaftarkan account pada aplikasi. Kode OTP ini dikirim ke nomer hape yang terdaftar pada rekening pengguna untuk aktifasi, namun nomer hape yang terdaftar telah  hilang dan sudah tidak terpakai oleh si bule. Saya cuma menyarankan untuk mengubah nomor hape yang terdaftar pada rekeningnya sehingga kode OTPnya terkirim ke nomer hape yang aktif.

Dengan bahasa Inggris saya yang sedikit terbata karena saya harus menggunakan istilah seawam mungkin untuk menjelaskan, beliau mendengarkan saya dengan seksama. Tidak sama sekali memotong pembicaraan, kadang ia menyelingi pembicaraan dengan sedikit lelucon.

Sesekali, saya tidak bisa menyebutkan istilah yang tepat dalam bahasa Inggris, dan beliau menimpali dengan “I know what you mean”

Setelah mengerti , beliau tersenyum lebar, menjabat tangan saya dan berkata..

“Thank you, you are very kind… thank you..”

Pujian tersebut tidak hanya 1 kali, melainkan berkali-kali, karena beliau bisa tiba-tiba kembali bertanya sebelum pamit untuk pisah.

Lalu, dada saya menjadi hangat.

He made my day.

Bekerja di perusahaan nasional memang membuat saya terkadang mendapat nasabah berkewarganegaraan asing, tanpa mengecilkan warga negara sendiri, orang-orang dengan kewarganegaraan asing cenderung lebih “murah” dalam memuji kerja kita. Mereka dengan mudah mengucapkan terima kasih diiringi sedikit pujian tulus tidak berlebihan yang berefek membuat saya (para pekerja) merasa dihargai.

saya tidak menyebut bahwa orang Indonesia yang menjadi nasabah saya tidak memiliki sopan santun, tidak sama sekali. Mereka dengan ramah mengucapkan terima kasih di akhir penjelasanku, tapi sedikit sekali dari mereka yang menyampaikan pujian secara tulus, ada beberapa yang mengucapkan “Terima kasih banyak Pak, penjelasannya bagus..”

ada juga yang “Terima kasih Pak.. pintar, hitung2annya tepat….”

Tambahan pujian di akhir kata terima kasih, kecil tapi bermakna.

Bagi mereka, mungkin itu hanya pujian dan basa basi,

tapi bagi saya, MADE MY DAY..,

Saya terlahir dari keluarga yang ringan memuji, bukan memuji untuk melebih-lebihkan tapi sebagai apresiasi terhadap pencapaian yang memang seharusnya mendapatkan pujian.

Ibu saya tidak segan memuji penampilan saya, nilai di rapor saya atau bahkan hal-hal positif simpel yang saya lakukan. Sesimpel rambut baru, atau baju baru atau apa saja diapresiasi dengan sewajarnya oleh Ibu.

Sama seperti Ibuku., terkadang saya sangat mudah untuk memberikan pujian ke orang-orang sekitar saya. Sedikit pujian saja seperti:

“parfume yg inii bagus? Bsok pakai lagi nah.”

“Wuihh kerenn sepatuumu..”

"cieee rambuut baru., model kyak ginii bguss"

atau

“pak, makasih sudah diantarkan. Nyetirnya enak, makasih..” ke bapak grab.

Saya tidak peduli mengenai respon mereka, yang saya lakukan hanya mengapresiasi apa yang patut diapresiasi dari diri mereka. Saya percaya, setiap manusia memiliki sesuatu hal yang layak untuk dihargai.

Tidak perlu berpikir bahwa pujian bisa disalah artikan menjadi flirting, tapi coba berkontemplasi.

Kapan terakhir kali kita memuji pekerjaan seseorang yang telah membantu kita dengan tulus? menambah sedikit apresiasi setelah ucapan terima kasih?

Pernah suatu hari, saya membaca artikel mengenai kultur orang asing yang mudah memuji tanpa menjilat. di Indonesia, lucunya, memuji dianggap flirting atau menjilat. Atau memang demikian adanya, sayapun kurang mengetahui pasti.

Tapi pernah suatu hari, saya berkenalan dengan seorang cewe yang mngkin usianya lebih tua dari saya, memiliki gaya unik dan cenderung selera saya. Muka mba-nya bersih sekali, lalu dengan tulus saya bilang padanya “mba, mukanya bersih sekali.." Mbanya hanya tersipu malu dan tertawa. Kemudian kami berpisah untuk menuju aktivitas masing-masing.

Sore harinya, saya bertemu lagi dengan si mba itu, karena kami sudah bersiap pulang, si Mba membawa tas coklat berbahan dasar kulit berbentuk kotak klasik.

Lalu, lagi-lagi dengan senyum lebar, saya bilang kepadanya “Mba, tasnya bagus sekali. Beli di mana?”
Si mba menunjukkan wajah keheranan, lalu bertanya pada saya
“Kenapa sih daritadi muji terus?”

Saya yang awalnya biasa saja, jadi tidak enak juga.

Saya bilang pada mba'nya dengan tulus
“Hahaha, ketika saya muji, artinya ya saya memang suka. Bukan karena basa-basi atau apa sih. Hahaha. Simply memang saya kagum saja.”

Lalu kami berdua mulai tertawa dengan suasana yang lebih cair.

Kultur memuji, mungkin tampak aneh atau seperti menjilat, tapi memang harus diakui, banyak sekali orang Indonesia ini yang memuji untuk mencari muka. Sering lihat kan foto selfie yang sebenarnya biasa saja tapi dipujinya berlebihan?
Nah.

Tapi, lama kelamaan saya sadar,
pujian yang biasa  dilontarkan memang bukan bentuk jilatan melainkan bentuk apresiasi. Lagipula, siapa juga yang tidak happy ketika apa yang dilakukannya mendapatkan minat di hati orang-orang terkasih?

Selama niatnya memang baik dan yang terpenting karena kita memang menyukai sesuatu,

memuji tidak ada salahnya kok.

Kamis, 15 Februari 2018

kalau boleh, saya ingin...

Ada rasa dimana saya ingin mengenalmu lebih dalam.
Mengenal sifatmu, mengenal kesukaanmu, dan semua hal tentangmu.
Bolehkah?
Kalau boleh, saya ingin.

Lalu saya ingin mengenalmu jauh lebih dalam lagi.
Mengenal kelebihan dan kekuranganmu.
Kemudian saya akan berusaha mengerti keduanya itu.
Bolehkah?
Kalau boleh, saya ingin.

Setelah itu, berharap menjadi lelakimu. Yang akan selalu mengerti keadaanmu. Yang akan menjadi tempat disaat kamu menceritakan keseharianmu.
Bolehkah?
Kalau boleh, saya ingin.

Saya diibaratkan sebagai anak buah dan kamu bos nya.
Aku bertanya 'bolehkah?', dan kamu mengiyakan maka segera saya laksanakan.

Tapi jika kamu tak mau, tak apalah.
Aku hanya anak buahmu :)