Kamis, 12 Juli 2018

memuji dengan tulus, bukan menjilat

Kemarin di salah satu kasir pusat perbelanjaan Kota Makassar, secara tidak sengaja saya bertemu dengan seorang berkewarganegaraan asing, beliau dengan sok kenalnya menyapa saya dan menjelaskan sedikit masalah yang didapatnya., mungkin karena id card kantor yang masih trgantung di dadaku sehingga beliau merasa mendapat orang yang tepat untuk memecahkan masalahnya.

Dari hasil penjelasannya saya berhasil menangkap kendala yang dimaksud.

Aplikasi alat bayar yang dikeluarkan oleh perusahaan tempatku bekerja memang membutuhkan kode OTP untuk mendaftarkan account pada aplikasi. Kode OTP ini dikirim ke nomer hape yang terdaftar pada rekening pengguna untuk aktifasi, namun nomer hape yang terdaftar telah  hilang dan sudah tidak terpakai oleh si bule. Saya cuma menyarankan untuk mengubah nomor hape yang terdaftar pada rekeningnya sehingga kode OTPnya terkirim ke nomer hape yang aktif.

Dengan bahasa Inggris saya yang sedikit terbata karena saya harus menggunakan istilah seawam mungkin untuk menjelaskan, beliau mendengarkan saya dengan seksama. Tidak sama sekali memotong pembicaraan, kadang ia menyelingi pembicaraan dengan sedikit lelucon.

Sesekali, saya tidak bisa menyebutkan istilah yang tepat dalam bahasa Inggris, dan beliau menimpali dengan “I know what you mean”

Setelah mengerti , beliau tersenyum lebar, menjabat tangan saya dan berkata..

“Thank you, you are very kind… thank you..”

Pujian tersebut tidak hanya 1 kali, melainkan berkali-kali, karena beliau bisa tiba-tiba kembali bertanya sebelum pamit untuk pisah.

Lalu, dada saya menjadi hangat.

He made my day.

Bekerja di perusahaan nasional memang membuat saya terkadang mendapat nasabah berkewarganegaraan asing, tanpa mengecilkan warga negara sendiri, orang-orang dengan kewarganegaraan asing cenderung lebih “murah” dalam memuji kerja kita. Mereka dengan mudah mengucapkan terima kasih diiringi sedikit pujian tulus tidak berlebihan yang berefek membuat saya (para pekerja) merasa dihargai.

saya tidak menyebut bahwa orang Indonesia yang menjadi nasabah saya tidak memiliki sopan santun, tidak sama sekali. Mereka dengan ramah mengucapkan terima kasih di akhir penjelasanku, tapi sedikit sekali dari mereka yang menyampaikan pujian secara tulus, ada beberapa yang mengucapkan “Terima kasih banyak Pak, penjelasannya bagus..”

ada juga yang “Terima kasih Pak.. pintar, hitung2annya tepat….”

Tambahan pujian di akhir kata terima kasih, kecil tapi bermakna.

Bagi mereka, mungkin itu hanya pujian dan basa basi,

tapi bagi saya, MADE MY DAY..,

Saya terlahir dari keluarga yang ringan memuji, bukan memuji untuk melebih-lebihkan tapi sebagai apresiasi terhadap pencapaian yang memang seharusnya mendapatkan pujian.

Ibu saya tidak segan memuji penampilan saya, nilai di rapor saya atau bahkan hal-hal positif simpel yang saya lakukan. Sesimpel rambut baru, atau baju baru atau apa saja diapresiasi dengan sewajarnya oleh Ibu.

Sama seperti Ibuku., terkadang saya sangat mudah untuk memberikan pujian ke orang-orang sekitar saya. Sedikit pujian saja seperti:

“parfume yg inii bagus? Bsok pakai lagi nah.”

“Wuihh kerenn sepatuumu..”

"cieee rambuut baru., model kyak ginii bguss"

atau

“pak, makasih sudah diantarkan. Nyetirnya enak, makasih..” ke bapak grab.

Saya tidak peduli mengenai respon mereka, yang saya lakukan hanya mengapresiasi apa yang patut diapresiasi dari diri mereka. Saya percaya, setiap manusia memiliki sesuatu hal yang layak untuk dihargai.

Tidak perlu berpikir bahwa pujian bisa disalah artikan menjadi flirting, tapi coba berkontemplasi.

Kapan terakhir kali kita memuji pekerjaan seseorang yang telah membantu kita dengan tulus? menambah sedikit apresiasi setelah ucapan terima kasih?

Pernah suatu hari, saya membaca artikel mengenai kultur orang asing yang mudah memuji tanpa menjilat. di Indonesia, lucunya, memuji dianggap flirting atau menjilat. Atau memang demikian adanya, sayapun kurang mengetahui pasti.

Tapi pernah suatu hari, saya berkenalan dengan seorang cewe yang mngkin usianya lebih tua dari saya, memiliki gaya unik dan cenderung selera saya. Muka mba-nya bersih sekali, lalu dengan tulus saya bilang padanya “mba, mukanya bersih sekali.." Mbanya hanya tersipu malu dan tertawa. Kemudian kami berpisah untuk menuju aktivitas masing-masing.

Sore harinya, saya bertemu lagi dengan si mba itu, karena kami sudah bersiap pulang, si Mba membawa tas coklat berbahan dasar kulit berbentuk kotak klasik.

Lalu, lagi-lagi dengan senyum lebar, saya bilang kepadanya “Mba, tasnya bagus sekali. Beli di mana?”
Si mba menunjukkan wajah keheranan, lalu bertanya pada saya
“Kenapa sih daritadi muji terus?”

Saya yang awalnya biasa saja, jadi tidak enak juga.

Saya bilang pada mba'nya dengan tulus
“Hahaha, ketika saya muji, artinya ya saya memang suka. Bukan karena basa-basi atau apa sih. Hahaha. Simply memang saya kagum saja.”

Lalu kami berdua mulai tertawa dengan suasana yang lebih cair.

Kultur memuji, mungkin tampak aneh atau seperti menjilat, tapi memang harus diakui, banyak sekali orang Indonesia ini yang memuji untuk mencari muka. Sering lihat kan foto selfie yang sebenarnya biasa saja tapi dipujinya berlebihan?
Nah.

Tapi, lama kelamaan saya sadar,
pujian yang biasa  dilontarkan memang bukan bentuk jilatan melainkan bentuk apresiasi. Lagipula, siapa juga yang tidak happy ketika apa yang dilakukannya mendapatkan minat di hati orang-orang terkasih?

Selama niatnya memang baik dan yang terpenting karena kita memang menyukai sesuatu,

memuji tidak ada salahnya kok.

Kamis, 15 Februari 2018

kalau boleh, saya ingin...

Ada rasa dimana saya ingin mengenalmu lebih dalam.
Mengenal sifatmu, mengenal kesukaanmu, dan semua hal tentangmu.
Bolehkah?
Kalau boleh, saya ingin.

Lalu saya ingin mengenalmu jauh lebih dalam lagi.
Mengenal kelebihan dan kekuranganmu.
Kemudian saya akan berusaha mengerti keduanya itu.
Bolehkah?
Kalau boleh, saya ingin.

Setelah itu, berharap menjadi lelakimu. Yang akan selalu mengerti keadaanmu. Yang akan menjadi tempat disaat kamu menceritakan keseharianmu.
Bolehkah?
Kalau boleh, saya ingin.

Saya diibaratkan sebagai anak buah dan kamu bos nya.
Aku bertanya 'bolehkah?', dan kamu mengiyakan maka segera saya laksanakan.

Tapi jika kamu tak mau, tak apalah.
Aku hanya anak buahmu :)

Selasa, 12 Desember 2017

menikah bukan hanya sekedar ingin..,

Saya pernah membahas ini di postingan saya sebelumnya  reason to get married., nikah muda, tentang mengapa harus memiliki persiapan dalam hidup, apalagi ketika yg diputuskan itu adalah pernikahan. Pernikahan yang didasari hanya atas sekedar ingin atau hanya karena dikompori oleh beberapa pihak tanpa persiapan yang cukup matang.

Siapa sih yg tdkk ingin menikah??? Dimana segala sesuatu yg dilakukan brsama trasa begitu indah. Apalagi bila tujuan utama nya adalah dalam rangka ibadah, pastilah bernilai pahala dlam setiap langkah.

Namun perlu dipahami bahwa smua orang berada di situasi yg berbeda2.

Dimana ada yg sdah siap materi tapi belum siap batin nya.

Dimana ada yg sdah siap batin tpi belum siap materi nya.

Dimana ada yg sudah siap batin nya tapi belum diizinkan orang tua.

Dan mungkin ada yg sudah siap segala nya kecuali si calon yg belum nampak wujud nya dan belum tahu sembunyi dimana., hehe

Jadi kurang tepat rasanya bila ada beberapa pihak yg tdk mengenal dan tdk tau siapa diri kita tapi menyuruh untuk cepat2 namun tanpa mengiringi dengan persiapan yg tepat.

Bkan kah prnikahan itu sejatinya adalah ibadah yg dijalani seumur hidup?

Bisa kalian bayangkan bila memutuskan utk melakukan nya hanya karena 'di kompori' namun trnyata sgala sesuatu nya belum dipersiapkan..??

Trmasuk belum mempersiapkan ilmu agama yg cukup sebagai bekal membina rumah tangga di masa depan, maka dipastikan kehidupan dalam pernikahan  nantinya tdk akan sesuai dengan apa yg kta harapkan.

Menikah bukan hanya agar bisa pacaran secara halal saja namun jg ada tanggung jawab besar dalam hal dunia dan akhirat yg kelak menanti di dlam nya.

Maka buat saudaraku yang  msih single, sibukan lah masa menanti kalian dengan menuntut ilmu syari, dan meningkatkan kualitas diri. Bukan malah sibuk baper sana baper sini.

Insyaa Allah segala sesuatu telah Allah siap kan tersendiri. Perihal kapan waktunya bukan lah mnjadi masalah yg berarti. Karena yg penting adalah, saat dipertemukan nanti kalian tlah sama2 saling siap dalam kemantapan iman dan hati.

Lalu bagaimana nanti ketemunya? 

Hmm.., Kan sudah ditulis sama Allah di Lauhul Mahfudz.

Yakin saja, Allah punya cara yg tdk pernah kita duga. Percaya saja kepada Allah SWT. Hhmm.. Allah Maha Tahu kok kapan waktu yg tepat dan terbaik.

Jadi serahkan saja smua pada Allah Azza Wa Jalla yg Maha Membolak-balik kan hati, selain tawakal jngan lupa jg ikhtiar dan niatkan hanya utk menggapai keridhoan-Nya semata, Inshaa Allah beres.

Yahh., Karena Menikah Bukan Hanya Sekedar Ingin.,

Dan buat yg slalu nanya nih kpan nikah.? Ga usah bnyak nanya lah, Saling Mendoakan itu jauh lebih baik.

Minggu, 26 November 2017

sudahkah kita bersyukur.??


Pernahkah kita berdoa kepada Allah agar jantung kita tetap berdetak pagi ini..? Tapi Alhamdulillah saat ini kita menikmati pagi dengan jantung yang masih berdetak, padahal kita tidak pernah memintanya.

Pernahkah kita berdoa kepada Allah agar mata kita tetap sehat sehingga dapat kembali menatap indahnya pagi ini..? Tapi Alhamdulillah pagi ini kita bangun dengan mata yang sehat, padahal kita tidak pernah memintanya.

Pernahkah kita berdoa kepada Allah agar pagi ini kita masih dalam keadaan sehat wal afiyat? Tapi Alhamdulillah.. Saat ini kita menikmati pagi dalam keadaan sehat wal afiyah, padahal kita tidak pernah memintanya.

Pernahkah kita berdoa kepada Allah agar pagi ini kita masih bisa berkumpul bersama keluarga tercinta ? Tapi Alhamdulillah.. Ternyata pagi ini semua anggota keluarga masih utuh dan semua dalam keadaan sehat wal afiyat, padahal kita tidak pernah memintanya.

Pernahkah kita berdoa kepada Allah agar mobil kita tidak mogok atau kecelakaan? Tapi Alhamdulillah.. Pagi ini kita selamat sampai tujuan tanpa kurang sesuatu apapun, padahal kita tak pernah memintanya.

Kalau begitu pernahkah kita berfikir bahwa ternyata ada begitu banyak karunia Allah yang kita nikmati, padahal kita tak pernah memintanya.

Lantas mengapa hanya karena satu do’a yang belum kunjung berjawab kita lalu berprasangka buruk kepada Allah. Kita seolah lupa semua karunia-Nya. 

Tanpa rasa malu lidah kitapun mengucapkan kalimat yang menggambarkan keputusasaan, “Saya sudah meminta.. tapi Allah tidak mengabulkan permintaanku”. Padahal bila Allah mengakhirkan pengabulan atas satu do’a pasti ada hikmahnya.

Bersyukurlah

Karena kita masih dapat menikmati pagi dalam keadaan sehat, semua organ tubuh masih berfungsi dengan baik, kita juga masih bisa makan, minum dan menjalani aktifitas pagi dengan suka cita, padahal kita tak pernah mengangkat tangan ke langit dan berdoa meminta semua itu. Tapi Allah memberinya karena kasih sayang-Nya. Ternyata begitu banyak yang belum kita syukuri.

فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Senin, 20 Maret 2017

selalu ada yang waktu jawab

Bulan Januari 2016. Pada suatu hari di cafe ternama yg  terletak di  pusat Kota Makassar. Pada sebuah meja bersegi empat, kami duduk berhadapan. Gelas-gelas mulai terisi penuh dan kemudian habis seiring selesainya cerita kami.

Mungkin ini sedikit yang bisa saya simpulkan selaku pendengar yang baik hari itu.. Ya, hari itu bukan saya tokoh utamanya, melainkan seorang sahabat yang sedang berjuang untuk melupakan cerita lalunya. Sahabat yang satu2nya menyapa saya dengan sebutan "om" tpi saya juga menyapanya dengan sebutan "tante".

(semua nama disini tidak akan saya samarkan..)

Wahyuni, seorang sahabat yg easy going, mulai apatis dengan keberadaan cinta, meneguk tehnya ditemani perih yang belum hilang akibat kandasnya cerita yang sempat dibangun.

“Yasudalah, ikhlasin saja. memang bukan jodohnya,”

Mencoba belajar move on akibat sakitnya dikhianati dan tidak dianggap utuh.



Hingga kamis kmarin notifikasi Blackberry Messengerku berbunyi
"Om, krumahki makan siang hari sabtu"

Sabtu itu, semua cerita sudah terbalik, pada pertemuan kembali walau bukan di tempat yang sama tapi satu benang merah yang bisa ditarik adalah...

Selalu ada yang waktu jawab..

Wahyuni. Hari ini.
sudah memiliki pria yang ia sebut dengan hormatnya sebagai kekasih, setelah lelah mencoba membukakan hati untuk orang lain.

Alunan nyanyian mengantarkan sang kekasih mengisi hatinya. Cinta mulai merekah kembali, berhamburan keluar dengan wanginya yang khas. Ketulusan dan kesucian mulai kembali menemani, senyum mulai tersungging dan harapan kembali terbangun.

"Bulan mei om! Doakan nah". Menikah? Yeahh. Tapi saya peringatkan bahwa omongannya tidak bisa dianggap sekedar candaan. Sabtu itu adalah hari dimana sahabatku ini melangsungkan acara mappetuadanya (lamaran).


Sebegitu hebatnya waktu, sehebat itulah Tuhan membolak-balikkan perasaan manusia. 15 bulan lalu kami bertemu untuk merayakan pedihnya ditinggal cinta, 15 bulan kemudian kami kembali bertemu atas kebahagiaan yang telah diraih.

Semoga lancar sampai hari H-nya tante.

Hebatnya waktu.

Selasa, 14 Maret 2017

Memang Benar Hidup Itu Pilihan

Sdah sekitar beberapa bulan ini, salah seorang teman baik saya kerjaannya ngeluh2 ke saya mengenai pekerjaan yang dianggapnya supeerrr dupeer annoying. Saya memang tidak pernah melarang dia ngeluuh apapun ke saya, karena hey that what’s friends are for kan. Jadi, keluhan demi keluhan dia saya dengarkan dengan sabar, sesekali saya abaikan.

Intinya pekerjaan dia itu membuat dia stress bukan kepalang, tiap pagi dia bangun dengan keadaan berat hati untuk pergi ngantor. Problemnya menurut saya sudah sistemik, dari mulai gaji yang dibayar kurang hingga loading pekerjaan yang tidak ada habisnya.. Pokoknya hari-hari dia stress berat dan bahkan dia bisa nangis ketika perjalanan ke kantor.

Saya, yang memang pada dasarnya terlahir sebagai seorang yang happy go lucky, jelas bingung masa ya ada spesies macam ini, yang sudahlah jelas-jelas tersiksa, tapi bukannya memutuskan resign dan cari kerjaan yang lebih sesuai passion.

Saya bukan tidak pernah berada di posisi teman saya ini, dulu jg saya prnah kerja dengan kontrak, saya juga tiap pagi dan pulang kantor ngeluh saking saya tdk suka dengan pekerjaan dan lingkungannya. Eh tapi jangan disamakan, saya tersiksa karena saya tidak punya pilihan. Mau keluar? Tidak mungkin, saat itu yang saya bisa lakukan hanya menjalani hingga selesai.

Lah teman saya ini? Variabelnya bisa berubah kok. Resign, beres.

Ngomong gampang sih.

Salah satu hal yang membuat dia bertahan di kantor itu adalah perasaan tidak enak untuk resign, karena ya dia kerja di perusahaan besar dan bergengsi (walau dibayar di bawah kemampuannya), dan dia merasa namanya besar karena perusahaan tempat dia bekerja ini.

Berbekal ketidakenakan itu, akhirnya teman saya memutuskan untuk bertahan dibanding menghadapi atasan untuk resign dan bergumul dengan ketidapercayaan diri yakin bisa diterima di perusahaan lain yang lebih baik, atau setidaknya dengan pekerjaan yang lebih baik lah.

Kemarin malam,

Saya ngopi dengan teman saya yang lain, teman saya yang ini berani meninggalkan pekerjaannya yang masuk dalam hitungan mapan finansial di Ibukota untuk pulang ke kampungnya memulai pekerjaan yang lebih tidak seksi tapi ternyata membuatnya bangun pagi lebih semangat.

Di situ, saya menceritakan masalah teman saya yang pertama, yang kebetulan juga mereka saling mengenal. Hingga gelas kami kosong, kami hanya menarik satu kesimpulan..

“Yasudalah, tidak semua orang mampu memilih dan berkata tidak untuk pekerjaan yang tidak sesuai kemauan.”

atau dalam bahasa saya,

Banyak orang terkurung dalam perasaan takutnya sendiri, terpenjara dalam ketidakenakan dan tuntutan menyenangkan banyak orang. Perasaan takut mengecewakan dan melupakan perasaan sendiri.

Myeh,

Saya sih jauh dari model begitu.

Tidak suka? Ya jangan dilakukan.

Saya cuma punya satu hidup dan satu badan kok,

Mau-mauan dipake untuk melakukan hal yang menguras emosi.

Untuk orang seperti saya, tidak punya pilihan adalah hal paling menyiksa. Untuk teman saya? Tidak membuat orang lain senang adalah penyiksaan yang lebih lagi, walau diri sendiri sama saja tersiksanya.

Kamu yang mana?

Kamis, 22 Desember 2016

apa kita sudah sayang dengan ibu?

Setiap tanggal 22 Desember kita smua memperingati Hari Ibu, hari dimana kita diingatkan kembali untuk menyayangi ibu, wanita yang telah merawat dan membesarkan dengan penuh cinta. Jika ada ungkapan tak ada pengorbanan yang lebih besar daripada pengorbanan seorang Ibu, maka itu benar adanya.

Lalu pertanyaannya, apakah kita sudah sayang dengan Ibu? kalau memang iya

"Apa makanan favorit Ibu?"

"Kapan trakhir kalinya kita makan bersama Ibu?"

"Apa topik terakhir yg kita bicarakan dngan Ibu?"

"Kapan terakhir kalinya kita tertawa bareng Ibu?"

"Apa kita pernah bilang ke Ibu bahwa kita mencintai dia?"

"Trus, Apa yang membuat Ibu bahagia?"

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk membayar semua pengorbanan para Ibu? Tak ada hadiah mahal yang bisa membayar semua pengorbanan Ibu, bahkan jika kita bisa membeli gunung sekalipun. Dan jangan salah, Ibu tidak pernah meminta kita untuk  membayar semua cinta yang telah diberikannya sejak kita masih ada di dalam perutnya. Ibu hanya meminta kita untuk menyayanginya.

Tak dipungkiri sebagai seorang anak terkadang kita lupa bahwa ada seseorang yang dengan perasaan cemas selalu menunggu kita pulang ke rumah. Sibuk kerja menjadi alasan untuk tidak meluangkan waktu sebentar saja berbicara dengannya, menanyakan kabar mereka, atau bahkan hanya sekadar bertanya,”Hari ini ibu mau makan apa?”

sesibuk apapun kita bekerja, ada seorang wanita yang harus selalu kita sapa dengan penuh cinta, dia yang selalu menunggu di dalam rumah. Mungkin dia tidak dapat memberikan rumah yang nyaman, tapi percayalah tak ada rumah yang lebih nyaman dari rumah yang didalamnya terdapat seorang ibu yang dengan setianya menunggu kita pulang dan menawari makan.

SELAMAT HARI IBU 😊

Rabu, 02 November 2016

bukan pemuja rahasia

Hey kamu...,

Wanita yg punya dunianya sendiri..,
Wanita yg paling gak bisa sy ngerti..,
Wanita yg moodnya bisa brubah sekejap dalam sepersekian detik..,
Wanita yg kekonyolannya kadang menyamarkan kepintarannya..,

Salam hangat untukmu..,

Apa yg kamu lakukan itu menghibur dengan kenyamanan yg kamu buat sendiri. Bersikap bisa mengatasi segala hal. Bahkan seolah2 kamu tdak membutuhkan orang lain di sampingmu, yg setia mendengar ceritamu dan tertawa bersamamu.

Kamu bercanda, tertawa, ceria, tak jarang pula kamu bersosialisasi, berkumpul, bergaul, bahkan menjadi pusat perhatian. disitu saya tau kamu bukan seorang pemalu. Kamu mengamati segala hal dan selalu berkutat dengan pikiranmu sendiri. Hingga akhirnya sulit bagimu untuk mempercayai orang lain.

Berhari2 kamu habiskan dengan banyak orang, tapi tdak ada seorang pun yang mudah untuk dapat ngertiin kamu. Hal itu pun terus berlanjut, kamu menyukai duniamu sendiri, merasa aman dengan zona yang kamu bangun sendiri. Tak mempersilahkan orang lain masuk ke dalamnya.

Mereka mengenalmu dengan baik tapi tdak seperti kamu mengenal dirimu sendiri. Kamu terlihat bahagia di luar zonamu, tapi  tak ada yang tau bagaimana kamu didalamnya.

Kamupun tidak mau menghancurkan duniamu begitu saja. Karena menurutmu dunia luar sangat kejam. Kamu berlindung di dalam duniamu, menyusun segala rencana dan menyiapkan semuanya disana.

Tapi pada akhirnya tidak semua orang dapat ngertiin pola pikir dan karakter yang sudah tertanam dalam dirimu. Bahkan beberapa orang yang berusaha untuk masuk mentah2 kamu tolak.

Mereka butuh penjelasan tapi kamu tidak tau apa yang perlu dijelaskan lagi. Kenapa mereka harus tau dan kenapa kamu membuat batasan diri. Siapa yang bisa menjawab? Kamupun tak tau

Kamu begitu mudah mempersilahkan orang lain masuk ke duniamu, tapi kamu tidak ingin mereka mencampuri urusanmu. Disitu jg saya tau kamu selalu berpikir bahwa mereka benar peduli atau hanya ingin tau.

Di lain sisi kamu membutuhkan mereka untuk memahamimu dan mendengarkanmu kan, tapi kenapa? Kenapa kamu selalu membatasi diri? Padahal orang lain ingin menganggap keberadaanmu itu penting bagi mereka.

Mereka butuh kamu ada.

Saya? saya bukan pemuja rahasiamu. Tapi saya terhibur dngan adanya kamu di keseharianku. Terimakasih tlah menjadi pribadi yg telah tampil apa adanya.. dan saya senang kamu bisa  menjadi versi terbaik dari diri kamu sendiri.

Kalau kamu baca tuliasan ini saya cuma mau bilang, jangan pakai jurus itu lagi dehh "Ohhhhh Pale"


Tertanda,
Saya yg selalu memperhatikanmu.

Rabu, 12 Oktober 2016

batasan


Jadi yaa beberapa bulan lalu, Ponsel saya berdering dari nomor  yang tidak saya kenali, dan ketika saya angkat ada orang sok asik berkata “ih.. masa nda kenal?”, sudah pengen saya matiin saja rasanya. Tapi lalu, orang di seberang telepon berkata “Heh yud.. ini ******..”

“Hah? eh… knapa tumben nelpon?”

Hanya itu yang keluar dari mulut saya ketika wanita itu menyebut namanya. Ternyata mantan pacar saya, yang sudah ntah berapa tahun tidak pernah saling bertukar kabar via suara. Kabar yang sampai di telinga kami hanya dari mulut orang lain atau dari update media sosial yang dimilikinya.


“Ganggu tdk? Sorry, ada yang mau ditanyain.. Jadi bgini… *menjelaskan maksud dan tujuan nelpon*..”

lalu saya menjawab semua pertanyaan yg diajukan, masuk akal mengapa dia memilih menelepon saya sih, bukan cari perhatian atau dibalut gula artinya dia kangen ya. Karena memang jawaban dari pertanyaannya ya memang ada di saya, makanya dia memilih untuk menghubungi saya secara langsung.

Di akhir percakapan, dia berkata

“Maaf kalau ganggu ya. Maaf karena sampai harus nelpon.. Salam untuk keluarga.”

lalu saya bertanya dlam hati “maksudnya?”

“mungkin krna dia tiba2 menghubungi sy, dan dia tau kapasitas dia di hidup sy ini apa. Terlebih lagi kami sadar posisi kami. So ya, salam untuk keluarga.”

Batas.

Mungkin ini yang disebut “mengerti batasan”, saya dan dia sempat tidak berjarak, saya dan dia pernah berjalan bersama sebelum akhirnya memutuskan untuk berjalan sendiri-sendiri. Sejak itu, hubungan kami memang baik-baik saja,

tapi ya..

kami memiliki batas.

Sebuah garis tidak tampak yg kami sendiri tidak pernah berusaha mendobraknya. Tidak menjadi “sok akrab” tidak pula bermusuhan. Kami berjalan dalam koridor khayal kami masing2, hidup kami dijalani berdampingan tapi tidak bertemu di sebuah transisi kebetulan yang sebenarnya sudah direncanakan.

Kami menjalani hidup seperti layaknya dua anak manusia yg dulu pernah penuh cinta, tapi sekarang hanya sekedar cerita.

Sejauh ini, dia belum pernah mengecewakan saya, mendadak masuk dengan maksud menghancurkan dinding khayal tersebut. Sayapun tidak pernah punya rencana untuk memasuki kembali hidupnya bahkan untuk sekedar menjadi teman.

karena itu tadi,

secara tidak sadar,

kami membangun dinding khayal antar kami, dinding yang tidak ingin kami dobrak.

Dinding yang kami biasa menyebutnya “batasan..”

Rabu, 17 Agustus 2016

Tebus Indonesia Kita

Apa menurut kalian arti merdeka?

Sudah tidak ada lagi perang..?

Sudah tidak ada suara desingan peluru, suara meriam..?

Sudah bisa makan enak..?

Sudah bebas dalam kerusakan..?

Inikah merdeka..?

Para pahlawan berjuang untuk bisa merdeka dari penjajah bukan semata ingin lepas dari peperangan, mereka ingin agar Indonesia bebas mengurusi urusan nya sendiri, bebas dari kerja Rodi, bebas dari intimidasi negara lain.

Apakah cita2 para pahlawan bangsa ini sudah tercapai?

You know lah..,

Setiap ngomongin Indonesia lebih dalam pasti rasanya miris banget. Entah kenapa ya, saya cinta banget sama negeri ini, tapi saya ngerasa tidak banyak hal yang bisa saya lakukan buat bangsa saya sendiri. Bingung aja, bangsa ini terlalu luas dan terlalu indah sebenarnya (dalam segala hal).

Apa rasanya tinggal di rumah yang statusnya digadaikan, dan lebih gilanya lagi kamu tidak tau gimana cara nebusnya, berapa tebusannya dan kepada siapa kamu harus bayar? Bukan mau sok dramatis, tapi itulah yang saya rasakan tinggal di Indonesia (seharusnya) rumah kita tercinta.

Kalau ini rumah kita, kenapa ada banyak hal yang tidak bisa kita lakukan didalamnya karena katanya itu sudah bukan hak tuan rumah lagi? “Jangan sentuh meja itu, sudah dibayar si anu” atau “Jangan pakai kamar yang itu, sudah milik si itu” Ga asyik banget.

Terus yang bisa kita lakukan apa?

Lets start simple.

Kalau menurut saya, hal yg paling simpel melakukan perubahan yang diawali dari diri sendiri.

Bantu produk2 lokal untuk bisa berdiri sejajar dengan serbuan brand2 luar yang punya kontrak dengan pabrik disini dan memperlakukan karyawannya dengan tidak layak.

Banyak pabrik Indonesia yang memproduksi produk pakaian dan sepatu untuk brand ternama (Nike, Adidas, GAP dll) GAP adalah yang terbesar jumlah produksinya menurut John Pilger dan membayar karyawannya sangat rendah, tanpa lingkungan dan fasilitas kerja yang memadai.

Mereka bekerja bisa sampai 18 jam sehari saat kejar target ekspor di ruangan beratap rendah tanpa AC/ventilasi. Tidak boleh ambil libur, dan tidak pernah diberitahu hak2nya oleh perusahaan. Serikat buruh kitapun belum sekuat dan disegani seperti di Eropa misalnya. Bayangkan, untuk sepasang sepatu lari seharga Rp.1.299.000 pengerjanya hanya dibayar kurang dari Rp.30.000 perhari.

Seandainya brand2 lokal bisa sebesar mereka. Jutaan pekerja bisa tertampung, dan bekerja untuk sebangsanya sendiri dan saya berharap akan diperlakukan jauh lebih baik dari sebelumnya. Asal kalian tau, sebagian produk2 internasional, termasuk yang kalian beli saat kalian jalan2 diluar negeri, dibuat di Indonesia oleh buruh saudara2 sebangsa kita yang dibayar sangat murah.

Ayo besarkan karya2 lokal, paksa dunia membeli produk kita karena kita bagus! Ayo tebus lagi bangsa kita supaya anak cucu bisa lahir di negara tak berhutang.

Saya tdk munafik, saya juga masih punya dan masih tetap membeli produk2 brand luar karena faktor kebutuhan. Tapi saya lebih memprioritaskan produk lokal, dan selalu berusaha untuk bantu mempromosikan produk lokal yah walau hanya sebatas pelaku UKM.

"Berubahlah maka keadaan disekitar pasti akan ikut berubah" dan yang pasti perubahan ke arah positif.

Jangan bangga membabi buta dengan nasionalisme sempit. Bangga jadi lokal bukan berarti kamu diharamkan menggunakan bahasa Inggris/asing. Realistis aja, satu planet ngomong pakai bahasa itu. Justru kita taklukkan mereka dengan bahasa mereka sendiri.

I’m Indonesian, man! And I’m proud

71st Independence Day, God bless Indonesia

MERDEEEEEKAAA........!!!!!