"Om, krumahki makan siang hari sabtu"
sudah memiliki pria yang ia sebut dengan hormatnya sebagai kekasih, setelah lelah mencoba membukakan hati untuk orang lain.
Sdah sekitar beberapa bulan ini, salah seorang teman baik saya kerjaannya ngeluh2 ke saya mengenai pekerjaan yang dianggapnya supeerrr dupeer annoying. Saya memang tidak pernah melarang dia ngeluuh apapun ke saya, karena hey that what’s friends are for kan. Jadi, keluhan demi keluhan dia saya dengarkan dengan sabar, sesekali saya abaikan.
Intinya pekerjaan dia itu membuat dia stress bukan kepalang, tiap pagi dia bangun dengan keadaan berat hati untuk pergi ngantor. Problemnya menurut saya sudah sistemik, dari mulai gaji yang dibayar kurang hingga loading pekerjaan yang tidak ada habisnya.. Pokoknya hari-hari dia stress berat dan bahkan dia bisa nangis ketika perjalanan ke kantor.
Saya, yang memang pada dasarnya terlahir sebagai seorang yang happy go lucky, jelas bingung masa ya ada spesies macam ini, yang sudahlah jelas-jelas tersiksa, tapi bukannya memutuskan resign dan cari kerjaan yang lebih sesuai passion.
Saya bukan tidak pernah berada di posisi teman saya ini, dulu jg saya prnah kerja dengan kontrak, saya juga tiap pagi dan pulang kantor ngeluh saking saya tdk suka dengan pekerjaan dan lingkungannya. Eh tapi jangan disamakan, saya tersiksa karena saya tidak punya pilihan. Mau keluar? Tidak mungkin, saat itu yang saya bisa lakukan hanya menjalani hingga selesai.
Lah teman saya ini? Variabelnya bisa berubah kok. Resign, beres.
Ngomong gampang sih.
Salah satu hal yang membuat dia bertahan di kantor itu adalah perasaan tidak enak untuk resign, karena ya dia kerja di perusahaan besar dan bergengsi (walau dibayar di bawah kemampuannya), dan dia merasa namanya besar karena perusahaan tempat dia bekerja ini.
Berbekal ketidakenakan itu, akhirnya teman saya memutuskan untuk bertahan dibanding menghadapi atasan untuk resign dan bergumul dengan ketidapercayaan diri yakin bisa diterima di perusahaan lain yang lebih baik, atau setidaknya dengan pekerjaan yang lebih baik lah.
Kemarin malam,
Saya ngopi dengan teman saya yang lain, teman saya yang ini berani meninggalkan pekerjaannya yang masuk dalam hitungan mapan finansial di Ibukota untuk pulang ke kampungnya memulai pekerjaan yang lebih tidak seksi tapi ternyata membuatnya bangun pagi lebih semangat.
Di situ, saya menceritakan masalah teman saya yang pertama, yang kebetulan juga mereka saling mengenal. Hingga gelas kami kosong, kami hanya menarik satu kesimpulan..
“Yasudalah, tidak semua orang mampu memilih dan berkata tidak untuk pekerjaan yang tidak sesuai kemauan.”
atau dalam bahasa saya,
Banyak orang terkurung dalam perasaan takutnya sendiri, terpenjara dalam ketidakenakan dan tuntutan menyenangkan banyak orang. Perasaan takut mengecewakan dan melupakan perasaan sendiri.
Myeh,
Saya sih jauh dari model begitu.
Tidak suka? Ya jangan dilakukan.
Saya cuma punya satu hidup dan satu badan kok,
Mau-mauan dipake untuk melakukan hal yang menguras emosi.
Untuk orang seperti saya, tidak punya pilihan adalah hal paling menyiksa. Untuk teman saya? Tidak membuat orang lain senang adalah penyiksaan yang lebih lagi, walau diri sendiri sama saja tersiksanya.
Kamu yang mana?
Setiap tanggal 22 Desember kita smua memperingati Hari Ibu, hari dimana kita diingatkan kembali untuk menyayangi ibu, wanita yang telah merawat dan membesarkan dengan penuh cinta. Jika ada ungkapan tak ada pengorbanan yang lebih besar daripada pengorbanan seorang Ibu, maka itu benar adanya.
Lalu pertanyaannya, apakah kita sudah sayang dengan Ibu? kalau memang iya
"Apa makanan favorit Ibu?"
"Kapan trakhir kalinya kita makan bersama Ibu?"
"Apa topik terakhir yg kita bicarakan dngan Ibu?"
"Kapan terakhir kalinya kita tertawa bareng Ibu?"
"Apa kita pernah bilang ke Ibu bahwa kita mencintai dia?"
"Trus, Apa yang membuat Ibu bahagia?"
Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk membayar semua pengorbanan para Ibu? Tak ada hadiah mahal yang bisa membayar semua pengorbanan Ibu, bahkan jika kita bisa membeli gunung sekalipun. Dan jangan salah, Ibu tidak pernah meminta kita untuk membayar semua cinta yang telah diberikannya sejak kita masih ada di dalam perutnya. Ibu hanya meminta kita untuk menyayanginya.
Tak dipungkiri sebagai seorang anak terkadang kita lupa bahwa ada seseorang yang dengan perasaan cemas selalu menunggu kita pulang ke rumah. Sibuk kerja menjadi alasan untuk tidak meluangkan waktu sebentar saja berbicara dengannya, menanyakan kabar mereka, atau bahkan hanya sekadar bertanya,”Hari ini ibu mau makan apa?”
sesibuk apapun kita bekerja, ada seorang wanita yang harus selalu kita sapa dengan penuh cinta, dia yang selalu menunggu di dalam rumah. Mungkin dia tidak dapat memberikan rumah yang nyaman, tapi percayalah tak ada rumah yang lebih nyaman dari rumah yang didalamnya terdapat seorang ibu yang dengan setianya menunggu kita pulang dan menawari makan.
SELAMAT HARI IBU 😊
Apa menurut kalian arti merdeka?
Sudah tidak ada lagi perang..?
Sudah tidak ada suara desingan peluru, suara meriam..?
Sudah bisa makan enak..?
Sudah bebas dalam kerusakan..?
Inikah merdeka..?
Para pahlawan berjuang untuk bisa merdeka dari penjajah bukan semata ingin lepas dari peperangan, mereka ingin agar Indonesia bebas mengurusi urusan nya sendiri, bebas dari kerja Rodi, bebas dari intimidasi negara lain.
Apakah cita2 para pahlawan bangsa ini sudah tercapai?
You know lah..,
Setiap ngomongin Indonesia lebih dalam pasti rasanya miris banget. Entah kenapa ya, saya cinta banget sama negeri ini, tapi saya ngerasa tidak banyak hal yang bisa saya lakukan buat bangsa saya sendiri. Bingung aja, bangsa ini terlalu luas dan terlalu indah sebenarnya (dalam segala hal).
Apa rasanya tinggal di rumah yang statusnya digadaikan, dan lebih gilanya lagi kamu tidak tau gimana cara nebusnya, berapa tebusannya dan kepada siapa kamu harus bayar? Bukan mau sok dramatis, tapi itulah yang saya rasakan tinggal di Indonesia (seharusnya) rumah kita tercinta.
Kalau ini rumah kita, kenapa ada banyak hal yang tidak bisa kita lakukan didalamnya karena katanya itu sudah bukan hak tuan rumah lagi? “Jangan sentuh meja itu, sudah dibayar si anu” atau “Jangan pakai kamar yang itu, sudah milik si itu” Ga asyik banget.
Terus yang bisa kita lakukan apa?
Lets start simple.
Kalau menurut saya, hal yg paling simpel melakukan perubahan yang diawali dari diri sendiri.
Bantu produk2 lokal untuk bisa berdiri sejajar dengan serbuan brand2 luar yang punya kontrak dengan pabrik disini dan memperlakukan karyawannya dengan tidak layak.
Banyak pabrik Indonesia yang memproduksi produk pakaian dan sepatu untuk brand ternama (Nike, Adidas, GAP dll) GAP adalah yang terbesar jumlah produksinya menurut John Pilger dan membayar karyawannya sangat rendah, tanpa lingkungan dan fasilitas kerja yang memadai.
Mereka bekerja bisa sampai 18 jam sehari saat kejar target ekspor di ruangan beratap rendah tanpa AC/ventilasi. Tidak boleh ambil libur, dan tidak pernah diberitahu hak2nya oleh perusahaan. Serikat buruh kitapun belum sekuat dan disegani seperti di Eropa misalnya. Bayangkan, untuk sepasang sepatu lari seharga Rp.1.299.000 pengerjanya hanya dibayar kurang dari Rp.30.000 perhari.
Seandainya brand2 lokal bisa sebesar mereka. Jutaan pekerja bisa tertampung, dan bekerja untuk sebangsanya sendiri dan saya berharap akan diperlakukan jauh lebih baik dari sebelumnya. Asal kalian tau, sebagian produk2 internasional, termasuk yang kalian beli saat kalian jalan2 diluar negeri, dibuat di Indonesia oleh buruh saudara2 sebangsa kita yang dibayar sangat murah.
Ayo besarkan karya2 lokal, paksa dunia membeli produk kita karena kita bagus! Ayo tebus lagi bangsa kita supaya anak cucu bisa lahir di negara tak berhutang.
Saya tdk munafik, saya juga masih punya dan masih tetap membeli produk2 brand luar karena faktor kebutuhan. Tapi saya lebih memprioritaskan produk lokal, dan selalu berusaha untuk bantu mempromosikan produk lokal yah walau hanya sebatas pelaku UKM.
"Berubahlah maka keadaan disekitar pasti akan ikut berubah" dan yang pasti perubahan ke arah positif.
Jangan bangga membabi buta dengan nasionalisme sempit. Bangga jadi lokal bukan berarti kamu diharamkan menggunakan bahasa Inggris/asing. Realistis aja, satu planet ngomong pakai bahasa itu. Justru kita taklukkan mereka dengan bahasa mereka sendiri.
I’m Indonesian, man! And I’m proud
71st Independence Day, God bless Indonesia
MERDEEEEEKAAA........!!!!!
Memiliki orangtua pintar memang berkah tersendiri sih.., Melihat track record Atta (ayah saya) di profesinya yang sekarang juga ketika masih bersekolah memang begitu cemerlang.. Saya tau itu dari Ibu, keluarga jg kerabat2 dari mereka. Lega? iya, karena sejak dulu saya tau saya punya sosok Atta yg bisa saya andalkan kalau-kalau saya tidak mengerti mengenai pelajaran sekolah..,
Sebentar, saya mau bercerita mengenai diri saya terlebih dahulu. Saya ini adalah pelajar biasa-biasa saja dari segi akademis. Saya tidak pernah maju dipanggil guru untuk mendapat penghargaan, sayapun kurang menyukai berada di kelas untuk memecahkan masalah menggunakan rumus. Waktu yang paling saya tunggu ketika sekolah hanyalah waktu istirahat dan waktu pulang.
Namun, didikan orang tua saya adalah ‘bertanggung jawab’, artinya saya harus tetap lulus dari sekolah dengan nilai baik. Terakhir saya cek di ijazah sih, rata-rata 8.8 berhasil saya dapatkan.
Hal tersebut berlanjut hingga saya kuliah. Jurusan saya adalah minat saya sendiri, tapi sebagai seorang pelajar yang sadar diri dengan kemampuan akademis yang cenderung tidak super cemerlang, saya lebih memilih menjadi mahasiswa santai tapi serius. Saya tidak pernah mengejar kesempurnaan cum laude. Saya menolak ikut remedial bila mendapat nilai B di mata kuliah berat. (saya menolak remedial untuk mata kuliah pemprograman visual delphi dan berujung nilai C di KHS akhir, iya saking susahnya untuk saya…)
Saya memilih menjadi mahasiswa santai. Datang beberapa menit sebelum kelas dmulai, keluar tepat setelah kelas selesai. Berkumpul dengan geng selepas kelas, main ke kantin di tengah mata pelajaran membosankan. Mengikuti berbagai kegiatan di luar kampus yang tak ada hubungannya dengan jurusan dan sibuk nongkrong.
Saya lulus bukan sebagai mahasiswa terbaik, boro2 maju ke dpan karena dianggap sbagai mahasiswa brprestasi, bahkan foto saya ketika tali toga dipindahkanpun tak ada dokumentasi. Tapi saya tau kewajiban saya, nilai KHS saya tidak buruk kok, setidaknya untuk syarat administrasi pendidikan diluar sana semua bisa saya lampaui. Untuk ditunjukkan depan calon mertua pun tidak memalukan.
Ya.. Intinya sih, saya ini adalah anak dengan kemampuan akademis biasa2 saja yang jauh dari cemerlang apalagi jenius.
Sebelum dilanjutkan, saya mau cerita mengenai seorang kenalan saya, sebut saja dia Andy. Andy ini 2 kali tidak naik kelas di sekolah. Iya, bukan sekali, namun 2 kali. Lulus SMA dengan susah payah, Andy melanjutkan kuliah di salah satu universitas swasta di Makassar, mengambil mata kuliah Pariwisata. Dengan susah payahpun, akhirnya dia lulus dari kampus tersebut.
Tapi percayalah, Andy adalah satu dari kenalan yang sangat saya kagumi kepintaran dan wawasannya. Andy bisa bercerita 24 jam penuh mengenai banyak hal, mengenai sepakbola, mengenai mimpi, mengenai sejarah, mengenai isu politik, mengenai faham dan dialektika, mengenai dunia, mengenai hampir apapun kecuali akademis.
Andy hanya memiliki 1 kekurangan, dia tak sanggup mengikuti pelajaran ilmu pasti dan semua cabang ilmu yang diajarkan di bangku sekolah formal. Bukan saja karena dia tak mau, tapi juga karena dia tak bisa.
Lalu, Andy jadi apa?
Andy hari ini adalah Travel Blogger, dia memilih karir sesuai yang dia inginkan dan jauh dari sisi akademis ilmu pasti. Dia jauh lebih mapan dari kakaknya yang seorang PNS. dan yang membuatku iri Andy setiap minggunya nonton bareng match Manchester United bersama fans MU di kota yg berbeda. Sosoknya juga sering wara wiri di berbagai artikel wisata. Hebatnya, Andy beberapa kali didaulat sebagai pembicara di beberapa forum universitas ternama di Makassar. Bisa bayangkan ada seorang dengan nilai akademis super jelek mengajar anak-anak dengan nilai akademis super baik?
dan yang terpenting, dia bahagia.
Dia tidak gagal.
dan dia tidak bodoh.
Kembali ke diri kita .
Apabila suatu hari nanti didapati saya tak sepintar orangtua saya dan memilih menjadi mirip Andy yang suka sekali hore-hore, sy pastikan saya bukan gagal. Pintar secara akademis itu penting, tapi ada yang jauh lebih penting lagi..
Tumbuhlah menjadi anak yang bahagia, bebas dan merdeka. Kita tidak boleh memiliki perasaan terkekang melihat profesi orangtua kita. Tidak terbebani oleh puja puji orang-orang terhadap orangtua kita
Jadilah seorang anak yang merdeka. Dan pastikan akan menjadi apapun yang kita mau, sejauh kita bertanggung jawab dan bisa menjelaskan secara sempurna mengapa kita memilih jalan itu.
Jadilah anak yang tumbuh tanpa beban dan bayang-bayang orang tua, tak apa tak dianggap pintar, yang terpenting bukan seberapa pintar nilai di atas kertas, tapi seberapa kaya kepala akan pengetahuan, hal umum juga pemikiran berkembang.
Bukan nilai di atas kertas yang akan menjadi penentu, tapi bagaimana kita bisa bermanfaat bagi sekitarnya.
Bagaimana kita bisa berdiri tegap tentang apa yang kita pilih,
Walau kita tak mirip , Ayah maupun Ibu kita..
Baru sempat menulis ini. Sebuah review perjalanan di usia 23.
Usia 23.
Berbagai ucapan sudah mulai masuk ke gadgetku hari itu, tak sedikitpun raga ini tergugah ingin melihat atau merayakan pergantian usia. Ku lihat jam tangan yang kebesaran berwarna abu2 yang melingkar di lengan kiriku. "beberapa menit lagi," gumamku.
Ku putuskan untuk menutup laptop dan membuka selimut, berharap tidak ada on call..
Tak ada perayaan istimewa, tak ada apapun. Yang ku ingat hanya sujud dengan tangis sedih pada shalat fardhu dan sunahku.
Ah, pesimis aku akan umur yang akan segera ku lalui.
15 April, 23:45 WITA
"beberapa menit lagi.." Gumamku, seraya melihat jam tangan besi yang pas dan sempurna di lengan kiriku. Menghitung mundur menitnya..
3.. 2.. 1..
Peluk dan cium. Kontras dengan jam yang sama tepat setahun sebelumnya.
Untuk sebuah perjalanan dan keputusan nekat yang sy ambil di usia 23.
3.. 2.. 1..
Terima kasih Tuhan..., masih mengizinkanku untuk mencapai angka 24..,
Usia 23.
Pernah benar-benar pasrah akan keputusan Tuhan..,
Pernah benar-benar menyerahkan diri atas semua hal yang akan terjadi kedepannya..,
Pernah menjalani hidup hanya menjalani apa yang disuguhkan tanpa berharap membuat cerita yg baru..,
Pernah apatis dengan cinta,
Merasa tidak akan sanggup jatuh cinta segila yang dulu sempat dirasa kepada seorang di masa lalu..,
Pernah berfikir bahwa langkah selanjutnya yang nanti apabila dilakukan hanyalah untuk penyempurnaan kehidupan..,
Pernah mengangkat telunjuk tinggi ke langit dan menyumpahi atas semua keputusan bodoh yang diambil sendiri..,
pernah meragukan semesta..,
Itu bulan pertama saya di usia 23.
Dan kamu datang. Mewarnai sisa hariku dan membangkitkan rasa percayaku akan masa depan yg indah..,
Makasiih untuk kamu..,makasih untuk stiap tawa kecilnya, makasiih untuk kebahagiannya, makasi untuk pendewasaannya, makasih untuk prhatiannya, makasih untuk nasehatnyaa, makasih untuk kegilaanya, makasih..makasih..makasih.., skali lagi terima kasih sudah membuat 23 ku lebih berwarna..,
tik tok tik tok tik tokk...
17 April , 23:50 WITA
Ohh iya beberapa menit lagi kamu memasuki usia 23, usia yang saya tinggalkan kemarin.., Selamat datang untuk 23nya kamu.., smogaa panjang umur, murah rezky, bertambah dewasa dan menjadi anak yang taat pada Allah juga berbakti pada Orangtua, wish U all the best aja dehh pokoknya. Smoga 23nya juga jauh lbih berwarna yaa.., Amin