When I wrote down this blog, my mom is 53 years old and my dad is 55 years old. Thank God, until I wrote this too they still healthy as well.
Kadang, orang tua terlalu takut untuk meminta....
meminta waktu anaknya untuk sekedar bercengkrama.
"Nikah Muda",
mungkin bagi beberapa mereka 2 kata ini terdengar begitu indah, bagai dongeng kisah klasik yang menyelamatkan mereka, bagai sebuah keriaan dengan akhir bahagia. Ditambah, banyak sekali di sekeliling mereka yang memutuskan untuk menikah muda dan terlihat bahagia. Tumbuhlah harapan-harapan di benak mereka untuk cepat-cepat melepas masa lajang.
Sedihnya, banyak dari mereka yang hanya mau, tetapi belum mampu..
Pernah suatu hari saya membaca postingan perempuan, curhat di umurnya yang menurutnya sudah tidak muda lagi, ia mengalami perpisahan dengan pacarnya karena si pacar dirasa tidak ada etikad baik mengajaknya menuju pelaminan, dan setelah ku tanya umur si perempuan itu, ia menjawab umurnya adalah 21…, Tuhan, umur 21 dan sudah hampir putus asa curhat ke orang tidak dikenal mengenai keinginan kuatnya untuk menikah...
Trus knapa sy menulis postingan ini..? dan knapa setiap teman maupun siapapun yang meminta saran padaku untuk menikah, maka pertanyaan pertama yang ku tanyakan pada mereka adalah..
"Ke depannya udah siap? Bisa hidup..?"
Aku tidak peduli mereka hidup seperti apa, sumber dana dari mana, si calon mapan atau tidak, punya rekening berapa. Karena pernikahan bukan hanya sekedar resepsi yang dipajang di Instagram lalu menimbulkan ribuan likes, bukan itu. Pernikahan adalah sebuah keputusan hidup bersama, berdua, hingga nanti.
Ku akui, hari pernikahan merupakan hari paling indah dalam hidup. Bayangkan, dalam 1 hari mendapat ribuan ucapan selamat, banyak kado dan semua orang yang menatap dirimu ketika berjalan. Tapi sesudahnya, orang tidak ada yang peduli, yang mereka tau, hidupmu sudah berdua.
Lalu? Apa mereka yang mengucapkan selamat atau yang ribet nanya kapan nikah akan membiayai hidupmu ke depannya? Jelas tidak, hidupmu dan pasangan ke depannya adalah tanggung jawab kalian sendiri. Nah poin ini banyak yang kalian lupa, bahwa pernikahan adalah sebuah perubahan fase hidup yang dibutuhkan banyak kesiapan.
Memang benar, semua manusia mempunyai standar hidupnya masing-masing. Ada yang kalau pusing harus cari coffee shop dengan harga secangkir minuman menyentuh 50.000 rupiah, ada yang sudah cukup beli jalangkote dekat rumah. Ada yang bila dirawat harus di kamar kelas 1, ada yang bisa sembuh walau hanya di kamar rawat kelas 3.
Setiap manusia mempunyai tingkat gaya hidupnya sendiri-sendiri, tapi mereka yang mungkin hidupnya tak seberuntung kalian yang sedang membaca postingan ini sembari menikmati minuman enak, juga pasti memiliki standar hidup dan harapan agar ke depannya hidupnya membaik, bukan?
di situ poinnya, mengapa setiap manusia harus memiliki persiapan dalam hidup, apalagi ketika memutuskan menikah.
Hidup itu selalu penuh keputusan, hidup selalu dihadapkan pada pilihan, dan manusia berhak untuk memilih mana jalan terbaik untuk dirinya.
Menikah itu hal yang indah. Benar. Bagaimana tidak indah, setiap pagi kita melihat raut muka seorang yang kita cinta, setiap hari kita memiliki seseorang yang bertanggung jawab atas kecukupan dan kebahagiaan kita..
Tapi, siapkah kamu? dan lebih penting, siapkah kalian memenuhi kebutuhan hidup kalian setelah menikah?
Pernikahan bukan ajang perlombaan, tidak mesti yang terakhir menikah adalah pihak yang kalah. Pernikahan juga bukan cepat-cepatan umur, tetapi kemantapan juga kesiapan, salah satunya kesiapan finansial, setidaknya untuk bertahan hidup ke depannya.
Jadi, kalau kamu merasa penghasilan kamu dan pacar kamu belom cukup untuk memenuhi hidup kalian pasca menikah, jangan pernah ragu untuk menunda. Kerja keras lagi, nabung lagi. Nikah tidak harus muda, tapi jika dirasa sudah siap, segerakan.. Tapi jangan tanpa persiapan. Gegabah memberi makan ego, lalu kemudian tak mampu memberi makan perut sendiri.
Tuhan memang menjanjikan rezeki bagi hambanya yang mau berjalan menuju kebaikan, di antaranya adalah pernikahan. Tapi janji Tuhan yang pasti benar itu baiknya tidak dijadikan "modal menikah". Menikah itu butuh persiapan, bukan berharap keajaiban. Karena Tuhan yang paling tau, seberapa porsi keajaiban yang Ia mau berikan pada hambanya.
Kembalikan lagi ke diri kalian berdua sebelum mengambil keputusan untuk bersama, sanggupkah kalian untuk hidup ke depan sesuai dengan gaya hidup yang kalian sepakati. Sanggup? Jalani. Menikah adalah hal baik dan membahagiakan, tapi juga penuh masalah. Nikah ketika sudah yakin bahwa ke depannya bisa hidup adalah satu cara mengurangi masalah berat ke depannya. :)
Selamat berbahagia dan merencanakan pernikahan. :)
Anda tentu berfikir, kenapa saya senang sekali membahas mengenai hal-hal kecil namun mampu menjadi "power booster" untuk saya?
Jawabannya simple, se simple hidup saya yang memang sederhana ini, karena semakin banyak anda bersyukur terhadap hal kecil yang anda punya, semakin anda akan banyak tersenyum dan menghargai setiap inchi bagian hidup anda.
Pasti anda pernah mempunyai teman, saudara, keluarga, ATAU BAHKAN ANDA sendiri yang selalu mengeluh dengan apa yang dimilki ? atau selalu merasa tidak puas mengenai hal-hal yang telah ia capai? atau yang telah ia miliki ?
Saya belum siap mengatakan diri saya menghargai setiap jengkal hidup saya, namun saya bersyukur (lagi-lagi karena hal kecil), saya bersyukur saya memiliki tingkat kesenangan yang amat sederhana, dan saya menyebutnya simply joy of life.
Apa sih simply joy of life menurut saya?
tdk banyak kok, simply joy of life ini adalah menikmati setiap kesenangan di dunia ini walau itu sekecil apapun , sesederhana apapun.
Terkadang kita sering lupa nikmatnya bernafas, nikmatnya mandi, nikmatnya tidur, atau hanya sekedar nikmatnya tersenyum. Saya memiliki teman yang sepanjang hidupnya penuh dengan keluhan, saya yakin kok ia mensyukuri apa yang ia miliki, namun hasratnya untuk "terlihat" lebih besar dari rasa bersyukur yang telah ia miliki.
Dalam kata lain, ia tidak benar-benar mampu untuk mensyukuri semua yang telah ia miliki dan dapatkan. Kurang muluslah, kurang putihlah, kurang inilah, itulah, menyedihkan gak sih hidup selalu dalam bayangan seperti itu? atau spent to much money demi menjadi cantik dan itu cuma akan membuat kamu terlihat FAKE? silly
Bersyukur itu adalah sebuah nikmat yang Allah berikan FREE kepada setiap hambanya, namun terkadang hamba Allah yang terlalu sombong menyia-nyiakan kemampuan super dahsyat ini. Allah memberikan rasa syukur kepada manusia, selain untuk selalu mengingatNya, juga untuk membuat hidup manusia lebih tenang dan damai. selalu tersenyum untuk kebahagiaan sekecil apapun. Kebahagiaan yang piciknya, orang sering sekali melupakan, atau sedihnya, ia tidak menyadari bahwa ia memiliki jutaan kebahagiaan kecil yang bisa ia nikmati sendiri.
Iya, menikmati sendiri.
rasa syukur itu tidak perlu disebar luaskan ke orang kok, orang akan sadar sendiri mana manusi yang memiliki rasa syukur, atau hanya sekedar pura-pura bersyukur. Rasa syukur jauh lebih bermakna saat anda menikmati rasa penuh keindahan itu sendiri, dalam alam bawah sadar anda sendiri, dan tersenyum sendiri, atau tertawa penuh pengharapan sendiri.
Kebahagiaan itu bukan datang dari material dan uang atau fisik semata kok, kebahagiaan mempunyai arti diatas segalanya, diatas semua pencapaian luar biasa Anda..! diatas semua wajah cantik Anda ! diatas semua jabatan Anda ! dan diatas semua omong kosong anda tentang bersyukur.
Kapan terakhir anda benar-benar bersyukur terhadap hal kecil yang anda miliki.? kapan anda tersenyum untuk diri anda sendiri.?
Atau . . . . .
kapan anda terakhir jatuh cinta terhadap diri anda sendiri ?
Bersyukurlah anda dengan semua hal kecil yang mengelilingi anda, tersenyumlah akan semua hal yang membahagiakan anda, tertawalah untuk semua pencapaian menarik yang telah anda gapai.
Dan yakinkanlah, anda akan jauh lebih bahagia,
BERSYUKURLAH, DAN TERSENYUMLAH UNTUK DIRI ANDA SENDIRI .